Thaprek, Nepal, menginap bersama Gurkha

0
334

Catatan perjalanan : Iwan Piliang*

Saya intens mengenal istilah Gurkha, ketika ada kasus pembunuhan David Hartanto Wijaya, mahasiswa Indonesia terbunuh di Kampus NTU, Singapura, 2009. Konon hal itu ada keterlibatan oknum Gurkha dengan Khukrinya. Khukri adalah pisau biasa dipakai oleh Gurkha, tentara bayaran asal Nepal. Sejak itu saya membaca banyak tentang Gurkha.

Apakah mereka kejam?

Ketika tiba di Khatmandu, Nepal, 6 hari lalu, bertemu dengan sosok muda bernama Sangkar, 22 tahun, saya dan Santi Sandra Widana ngobrol. Sangkar mengaku pernah dua kali ikut test Gurkha. Mereka punya pilihan menjadi tentara di Inggris, India atau Polisi Singapura.

Kata Sangkar, setiap penerimaan tes, pelamar rata-rata 40.000 orang, lulus diterima hanya 400 orang. Menjadi Gurkha dambaan warga, karena bisa bekerja di Inggris dengan gaji awal RNS 17.000, belum tunjungan macam-macam. Di tengah alam keras mencari nafkah kehidupan, Gurkha memang mimpi kesejahteraan.

“Tesnya berat. Setelah test tertulis Matematika, Bahasa Inggris dan Nepali, lulus, dilanjutkan tes fisik,” ujar Sangkar.

Fisik meliputi lari sprint 800 meter harus digapai 3 menit. Lalu jalan cepat bahkan berlari menanjak, ada tanjakan berkemiringan 50 derajat, sejauh 5 km membawa Doko berbeban 25 kg, kudu digapai dalam tenggang 50 menit, telat sedetik tidak lulus.

“Saya dalam tes kedua kali hanya telat 3 detik,” kata Sangkar.

Maka di saat ngobrol ihwal Gurkha itulah kami bertanya apakah setelah di Pokhara, Nepal, kami bisa ke kampung Gurkha?

Serta-merta Sangkar menjawab, Gurkha bukan kawasan. Tetapi sebutan untuk tentara. Mereka semua berasal dari Nepal, tapi tak semua suku di Nepal bisa dan boleh jadi Gurkha. Sangkar bersuku Gurung, ia berasal dari kampung di gunung bernama Thaprek, di kawasan pebukitan terjal Kaki Pegunungan Himalaya. Bila cuaca bersih bisa menyimak Annapurna, dan beberapa puncak lain Himalaya. “Bila cerah awan ada di lembah dan kita seakan di atas awan,” kata Sangkar.

Wah cerita negeri di awan.

Kami mengajak Sangkar ke kampungnya. Apalagi ia betutur, kakeknya mantan Gurkha di Inggris, dan saudara kakeknya ada pensiunan Gurkha, bisa ditemui di desa.

Maka pukul 9 pagi kemarin Sangkar setelah berjalan darat dari Pokhara 7 jam sudah berada di lobby hotel kami menginap. Ia sudah siap dengan mobil sewaan jeep Tata tua, seperti Daihatsu Feroza 4×4.

Setelah dua jam di jalanan beraspal, perjalanan berlanjut off road menanjak.

Bebatuan kasar, sesekali bahkan runcing bak puncak gunung mesti diinjak roda mobil. Debu tebal seakan membumbui ban mobil.

Debu semerbak terbang ke belakang menguning. Dominan jalan melalui tebing terkadang sangat tubir, berjarak sedepa saja dari tepi jurang. Beberapa kali Mbak Sandra menahan nafas sesak melihat ke kiri dan kanan jurang curam. Hingga sampailah kami ke atas puncak Thaprek.

Belum banyak turis datang ke sana. Kami berdua rombongan ke enam orang asing ke sana, begitu penuturan Sangkar.

Saat ini kami sudah di hotel lagi di Phokara, semalam di Thaprek menjadi pengalanaman luar biasa; tidur di rumah Tantenya Sangkar, dihibur dengan nyanyian dan tarian desa di malam ingin, bertemu dengan janda Gurkha dan pensiunan Gurkha.

Kehidupan di Thaprek, desa bersahaja. Alam dengan panorama pebukitan di udara cerah bisa disimak berbelasan lapis bukit nun di kejauhan Pegunungan Himalaya bersalju.

Keluarga Sangkar beragama Buddha, tetapi di kampungnya ada juga penduduk Hindu, bahkan Muslim. Petang kemarin setelah berkeliling desanya, kami diajak ke belahan bukit satunya berjalan kaki setengah jam bertemu kampung didiami 100 rumah Muslim. Ada masjid.

Saya sempat Ashar dan Magrib berjamaah.

Di saat Alfatihah dibaca, hingga Aamiin, tak ada lafas Aamiin diucapkan jamaah dengan bersuara. Terasa senyap khusuk. Semalam itu jamaah 11 orang.

Mereka dalam diam dan Imam meneruskan ayat pendek. Setelah disuguhi teh dan biskuit, Imam, Ustad, Alim, melepas kami pulang ke kediaman kerabat Sangkar dalam gelap malam di jalanan menanjak berbatu berdebu.

Pagi tadi di saat mentari masih memerah, Imam, Ustad dan Alim, pengasuh Madrasah mengantar kue ke rumah. Ia pun menenteng sebotol Sprite ukuran seliter. Dengan takzim Ustad bilang, “Kalian tamu kami sesama Muslim, tapi tak sempat makan di kediaman kami, ini sedikit kue dibikinkan isteri kami,” kata mereka pula serempak, “Datanglah kembali ke Thaprek.”

Mentari pagi mulai memutih, kabut membuat pemandangan nanar. Berlapis-lapis bukit sayatannya samar. Suara burung, anak kambing, ayam jago kekar, mancawarna denyut kehidupan gunung.

Sarapan pagi sudah disiapkan Tantenya Shangkar. “So I told you, we are here brotherhood.”

Berkali-kali ia bilang mereka sesama umat selalu damai, persoalan sesamanya bagaimana bertahan hidup mengatasi kerasnya alam. Untuk mengambil padi ke sawah harus menuruni tebing, kadang berjarak belasan km di udara minus dan harus dibawa ke atas ke rumah dg Doko bertumpu ke kening kepala.

Doko keranjang dari bahan bambu, yang ditarok dipunggung bisa diisi beban, talinya bertumpu ke kening kepala. Saya menjadi paham mengapa leher Gurkha bisa lebih keras dari leher Mike Tyson.

Dan dari menginap semalam di Thaprek. Pahamlah kami mengapa Gurka begitu setia kepada tuannya. Gurkha pembunuh David jelas berada dalam tatanan pemeritah Singapura. Dan di Thaprek kental dengan keramahan alam kehidupan.

Saya pernah verifikasi, seorang mantan menteri kita di Indonesia pernah menggaji 17 Gurkha. Gurkha sosok setia, tangguh. Mereka diasah alam.

Sebelum meninggalkan Thaprek, saya sempatkan mengusap anak kambing berumur 15 hari. Si anak tak merasa takut. Bulunya lembut, suaramya beee halus, sehalus hati warga Thaprek hangat sangat bersahabat.

*Penulis memiliki nama lengkap Narliswandi Piliang, namun lebih akrab dipanggil Iwan Piliang, adalah seorang aktivis, wartawan, dan penggiat citizen journalism (jurnalisme warga) Indonesia. Ia pernah dipercaya menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI-R).

Iwan Piliang mulai dikenal publik Indonesia ketika ikut aktif menyelidiki kasus kematian yang diduga pembunuhan terhadap David Hartanto Widjaja, seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Teknologi Nanyang, Singapura (NTU) pada tahun 2009.

Pria asal Minangkabau ini semakin dikenal luas pada Juli 2011 ketika berhasil melakukan wawancara melalui jaringan skype dengan Muhammad Nazaruddin, seorang buronan pihak kepolisian dalam kasus korupsi. Wawancara tersebut disiarkan oleh salah satu TV swasta nasional dan mendapatkan perhatian besar dari masyarakat.

LEAVE A REPLY