Surat Adinda Rania dibalas Obama

0
206

Selepas pemilu lalu saya memang down betul. Tidak saja karena hasil pemilu itu membuat saya merasa “gagal” jadi wartawan karena “salah” membaca tanda2 dan indikasi rasional yang ada, tetapi juga karena secara emosional saya sudah terlalu terlibat dengan berbagai isu yang ada sejak pencalonan kandidat, kaukus, konvensi partai, debat capres hingga pemungutan suara; dan membayangkan kondisi yang bakal jauh lebih mencemaskan ketika yang terpilih adalah yang selama ini kerap mem-bully pihak lain, bisa menghindari pembayaran pajak, kerap mengeluarkan statement provokatif dll.

Keresahan saya itu tampaknya dibaca juga oleh anak-anak, yang jadi “melek pemilu” karena sering “terpaksa” menonton atau mendengar ulasan pemilu saya. Pertanyaan pertama mereka setelah tahu hasil pemilu 8 November adalah “is it still safe for us to be here?” Pertanyaan yang valid mengingat adanya sejumlah insiden anti-minoritas sebelum pemilu.

Saya tidak menyangka ketika si bungsu Adinda menulis kekhawatirannya dalam surat sepanjang empat halaman kepada Presiden Barack Obama. Saya juga tidak membaca lengkap surat yang dilengkapi gambar2 sekolah, papan seluncur, ketiga kakak dengan backpack mereka dll; dan langsung memasukkan ke kotak pos setelah diberi perangko oleh Adinda. Tetapi Presiden Obama ternyata membaca lengkap surat itu dan hari ini beliau membalasnya.

“Thank you for writing. Passionate debates about equality and fairness have always been at the heart of our American story, and I am glad you took the time to tell me how you feel”, tulis Obama di bagian awal suratnya. Di bagian lain surat itu disebutkan tentang kesempatan dan hak yang terbuka bagi semua orang, tanpa membedakan latar belakang dan agama apapun. “While we might look different or come from different families, as Americans, we are united in our belief that all of us deserve the same rights and the same opportunities”, tulis Obama.

Presiden yang akan segera meninggalkan Gedung Putih 20 Januari nanti mengakhiri suratnya dengan ucapan terima kasih. “Thank you again for sharing your thoughts with me”.

Rasa haru menyelimuti saya. Sungguh tidak mengira beliau akan meluangkan waktu membalas surat Adinda dan menjawab keresahannya. Keresahan saya. Keresahan kami disini.

Bagi Dinda surat ini menjadi hadiah ulang tahun terindah. Bagi saya surat ini kembali memberi harapan baru, yang sempat pupus 8 November lalu.

LEAVE A REPLY