Sukarno, Ki Bagus Hadikusuma, Suharto, Amin Rais – Semua Mereka Muhammadiyah

0
133

By: Rusdianto Samawa Tarano Sagarino*

JAKARTA, Saya berusaha menyelami dari berbagai literatur dan daftar pustaka seluruh buku yang menyajikan sosok Soekarno sebagai aktor kemerdekaan Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Dimana Bung Karno telah menjadi pimpinan Muhammadiyah di wilayah Bengkulu tahun 1938 saat dibuang dari Ende ke Bengkulu.

Saya juga tidak pernah meragukan bahwa Bung Karno telah menjadi Muhammadiyah sebelumnya sejak umur 15 tahun karena sejak itu Soekarno belajar mengaji dengan Ahmad Dahlan. Belajar mengajipun tidak sendiri, ia di temani banyak kawannya waktu itu seperti Tan Malaka, Muso, Kartosuwiryo dan lainnya. Hal ini dilakukan karena berkat hubungan Ahmad Dahlan dengan H.O.S cokroaminoto.

Bung Karno juga dalam sejarahnya seorang Muballigh di Bengkulu bersama Fatmawati, Sitti Chadijah (Istri Hasan Din) dan Hasan Din sendiri. Jasa Bung Karno tak bisa diragukan lagi bagi internal Muhammadiyah. Apalagi ditambah dengan energi dakwah amar makruf nahi mungkar dalam melawan penjajah kian membuncah, dengan klimaksnya membentuk organisasi kecil komunitas dakwah “Ikatan Muballigh Muhammadiyah Bengkulu”.

Komunitas kecil inilah yang banyak diadopsi oleh Gerakan Dakwah Jamaah Muhammadiyah tahun 1960-an hingga 2000-an keatas. Namun, Gerakan Dakwah Jamaah populer pada masa kepemimpinan Din Syamsuddin (2005 – 2015). Akan tetapi, awal muncul gerakan dakwaj jamaah fi motori oleh Ahmad Dahlan semasa mendirikan Muhamamdiyah dan dilanjutkan oleh Bung Karno dibengkulu dan disempurnakan konsepnya pada masa kepemimpinan KH. Asyhar Basyir.

Untuk diketahui juga, bahwa Ikatan Muballigh Muhammadiyah yang dibentuk Bung Karno itu tahun 1938 – 1942 telah terdiaspora ke Jakarta secara kelembagaan yakni terbentuk komunitas yang sama di Universitas Muhammadiyah Jakarta dulu IKIP Jakarta pada tahun 1944 – 1962.

Dari sinilah embrio awal terbentuknya organisasi Mahasiswa yang bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, sehingga secara tidak langsung Bung Karno lah sebagai peletak pondasi sejarah lahirnya kaum merah modernis dari kalangan Muhammadiyah yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tahun 1964.

Beda lagi Ki Bagoes Hadikusuma, mantan Ketua Umum pengurus Besar Muhammadiyah ini telah menjadi presiden Umat Islam yang menentukan seluruh tindak tanduk umat Islam.

Ki Bagoes termasuk sala satu tokoh sentral dalam upaya memerdekakan bangsa ini. Tokoh satu ini merupakan jalur resmi diplomasi dan negosiasi umat Islam dalam menghadapi situasi apapun

Ki Bagoes Hadikusuma termasuk generasi awal yang belajar langsung kepada Ahmad Dahlan. Mungkin saja Bung Karno direlakan untuk pengabdian pada wilayah politik dan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Kalau Ki Bagoes Hadikusuma harus dua peran yakni untuk Muhammadiyah dan politik dalam arus kemerdekaan.

Gagasan Ki Bagoes Hadikusuma tentang rumusan Pancasila yang harus menjadi konsensus bersama adalah faktor keikhlasan dalam menilai masa depan bangsa. Andaikan Ki Bagoes Hadikusuma “ngote” atau “mangkel” atau berpendirian tetap agar sila pertama tidak disetujui perubahannya. Mungkin saja Indonesia tidak akan bertahan pada masa hingga sekarang ini.

Tentu Muhammadiyah sebagai penyangga utama umat Islam untuk merealisasikan kemajuan dan kesejahteraan umat, tentu berfikir panjang dalam berbagai sikap dan tindakan bahwa BANGSA INDONESIA lebih utama dari segalanya.

Begitu juga, Soeharto tidak kalah pengabdiannya terhadap Muhammadiyah. Dimanapun kegiatan Muhammadiyah Bung Harto selalu ngintil dan merestui apapun agenda Muhammadiyah.

Bung Harto ber-Muhammadiyah tidak seperti Bung Karno secara ideologis dan struktural. Tetapi, Bung Harto ber-Muhammadiyah melebihi dari tokoh-tokoh yang lain, misalnya dalam beberapa kesempatan Bung Harto memberi bantuan kepada Muhammadiyah baik dalam bentuk kebijakan, menteri, perbelanjaan, dan lain sebagainya. Tidak bisa menyebut satu persatu.

Bung Harto termasuk meyakini Muhammadiyah secara kultural. Walaupun Muhammadiyah secara kelembagaan bermasalah dengan negara karena kebijakan tentang harus menganut ideologi Pancasila yang dijadikan sebagai asas sehingga memastikan pancasila tertransformasi dengan baik dan benar.

Kebijakan Bung Harto ini saya apresiasi. Analisisnya sederhana, ada dua hal yakni pertama, Bung Harto ingin Pancasila sebagai asas tunggal dalam bernegara baik secara kelembagaan maupun individu seorang warga negara. Tanpa harus mendegradasikan Pancasila sehingga bisa utuh. Tetapi, Belakangan ini oada Muktamar Muhammadiyah di Makassar telah memutuskan Pancasila sebagai Darul Ahdi Was Syahadah. Visi dan misi ini dinilai bahwa Muhammadiyah telah menganggap Pancasila sebagai ideologi FINAL bangsa Indonesia dan harus ditransformasikan kedalam Muhammadiyah itu sendiri.

Kedua, Bung Harto telah menanam tekad untuk terus memperbaiki tatanan kondisi bangsa, walaupun hari ini dengan situasi morat marit bernegara sebetulnya sudah diprediksi oleh Bung Harto. Bahwa negara Pancasila ini akan menjadi bancakan para asing aseng. Pada masa kepemimpinan Bung Harto Pancasila itu benar-benar hadir hingga di rasakan oleh generasi bangsa yang seumur 10 tahun sudah bisa menghafal Pancasila.

Kerinduan akan doktrin pancasila dengan gaya Bung Harto ini selalu dinantikan karena memang betul-betul Pancasila terpateri kedalam sanubari generasi bangsa Indonesia. Sehingga tidak mudah orang aseng asing mengobok-obok Ideologi negara Indonesia.

Dari rezim Bung Harto ini banyak berpendapat sebagai pelanggar HAM, otoriter dan fasis. Namun, pendapat saya, bahwa Pancasila tidak akan berjalan seirama dengan asas demokratisasi karena faktor tidak inheren. Demokrasi lahir di Negara asing Amerika Serikat, sementara Pancasila lahir di Indonesia yang bersumber dari segala hukum, norma, agama dan budaya masyarakat Indonesia. Sehingga Pancasila dan demokrasi tidak memiliki kesamaan visi dengan Pancasila. Bahkan, demokrasi membancakan sendi-sendi nilai yang terkandung didalam Pancasila.

Apalagi saat itu kemunculan Amin Rais sebagai reason gerakan sosial reformis yang tiada hari tanpa kritik terhadap penguasa. Mungkin saja karena Amin Rais sebagai alumnus Ilmu Politik di Universitas Chicago Amerika Serikat sehingga memiliki keilmuan yang cukup dalam memandang persoalan bangsa.

Tantangan perubahan melalui agitasi dan propagandanya menjadi angin surga bagi para pegiat demokrasi, HAM dan politik internasional.

Bayangkan saja, sejak Amin Rais mencalonkan diri Ketua Umum PP Muhammadiyah pada Muktamar Aceh, penguasa rezim orde baru berusaha mencegalnya agar tidak lolos menjadi Ketua PP muhammadiyah. Namun, Allah berkehendak lain, memutar tangan dan bolpoint para peserta muktamar Muhammadiyah agar memilihnya, sehingga Amin Rais terpilih menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Sejak terpilih, kondisi perpolitikan nasional semakin meningkat tajam, menyusul usulan Amin Rais di forum tanwir Muhammadiyah di Surabaya kala itu dengan satu kata “Pergantian Kepemimpinan Nasional”. Tentu pesan pelengseran atas rezim Bung Harto ini menjadi konsumsi media dalam negeri dan luar negeri. Bahkan, kondisi memanas mulai terjadi dibeberapa daerah.

Dengan kegigihan, agitasi dan propaganda Amin Rais menjadi pemicu gerakan sosial lebih besar hingga Soeharto benar-benar lengser dari keprabon kekuasaannya.

Melihat, menelisik dan mengkaji Amin Rais ini selalu membuat kita menarik karena ada banyak buku yang menjelaskan tentang sepak terjangnya.

Dalam catatan saya di buku “IMMAWAN BUNG KARNO: novel Biofikasi Kaum Merah dan Tanwir Perubahan diterbitkan oleh Global Base Review (GBR) telah banyak saya deskripsikan tentang Amin Rais sendiri.

Walaupun saya tidak pernah bertemu dan saya juga tidak ingin bertemu, namun saya kagumi sosoknya. Amin Rais termasuk junior Djazman Al-Kindi sang mastro pergerakan angkatan 1966, sekaligus pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Namun, berbeda Amin Rais memilih masuk HMI tahun 1950-an dan Djazman Al-Kindi tidak memilih HMI tetapi Pemuda Muhammadiyah sejak 1940-an. Setelah IMM berdiri tahun 1964 Amin Rais kembali ke rumah besarnya yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Muhammadiyah itu sendiri. Amin Rais juga sala satu senior assabiqul al awwalun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, di katakan assabiqul al awwalun itu karena termasuk dalam kategori pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Padahal Amin Rais sendiri berada pada posisi generasi kedua setelah berdiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Terlepas dari latar belakang yang ada bahwa Amin Rais sala satu tokoh kebanggaan para aktivis, warga Muhammadiyah, bahkan rakyat Indonesia yang memiliki keberanian diantara para kebanyakan pemuda pemudi Indonesia.

Kita bisa lihat sepak terjang Amin Rais mulai dari masa menjadi aktivis hingga sekarang. Yang membuat banyak rakyat dan generasi muslim bangga bahwa seumur Amin Rais masih lantang bersuara untuk keadilan karena lillahitaala, tidak memiliki ekspektasi apapun.

Ketika Amin Rais secara personal memainkan peran akrobatiknya dengan gaya intervensifnya terhadap penguasa. Membuat para banyak pejabat penguasa memerah dan mencak-mencak atas kritikannya yang sangat keras. Tentu gaya itu tidak akan bisa ditinggalkan oleh seorang Amin Rais mulai sejak mahasiswa hingga pensiun dari politisi dan pejabat negara.

Yang membuat saya tertegun dengan sikap Amin Rais, kurun waktu 2000 hingga 2012 laju issu Amin Rais menjadi komisaris Freport Indonesia. Saya tentu kaget, dengan menerka dan analisa kecil, hati nurani saya mengatakan “tidak mungkin Amin Rais menjadi komisaris perusahaan kapitalis” yang ia lawan selama ini. Kemudian, ketidakpuasan saya atas analisa itu, lalu saya bertabayyun dengan membaca pemikiran atas bukunya berjudul “Selamat Indonesia” terbit tahun 2007. Amin Rais pun menantang banyak orang untuk membuktikan tuduhannya itu dan kalau terbukti akan jalan Jakarta – Yogyakarta. Tetapi, tidak terbukti. Sungguh khawatir sikap tuduhan begini.

Buku tersebut saya dapatkan langsung dari Amin Rais plus tanda tangannya tepat di depan pintu keluar ruang Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Lampung. Sangat terkesan, tentu saya sendiri membaca Amin Rais sebagai tokoh reformasi sejak 1996 hingga sekarang.

Tahun 1996 semasa saya Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Empang Kabupaten Sumbawa Besar, juga terjadi bancakan uang negara pembangunan gedung baru sekolah. Dengan keberanian dan kepedulian serta terinspirasi agitasi propaganda Amin Rais, saya dkk melakukan gerakan mogok dan demonstrasi massal disekolah menuntut koruptor uang pembangunan sekolah segera selesaikan. Akhir, solusinya kepala sekolah dipindahkan dan diproses hukum.

Cerita diatas merupakan upaya mencintai bangsa dan negara bahwa siapapun yang melakukan korupsi harus ditindak tegas tanpa unsur politis apapun.

Pada tahun 1998 saat reformasi berlangsung, saya termasuk dalam terjaring razia aktivis mahasiswa Universitas Mataram dan Universitas Muhammadiyah, mengajak saya untuk bergerak ke Mataram membantu upaya lengsernya Soeharto, dimana di Jakarta sudah berkecamuk nassa untuk menurunkan Soeharto.

Namun, karena orangtua saya takut dan satu-satunya laki-laki tulang punggung keluarga, akhirnya saya memutuskan tidak pergi dan memilih bertani dan membaca informasi dari layar TVRI dan suara radio di rumah paman saya pada setiap subuh setelah jadwal ceramah KH. Zaenuddin MZ.

Dari berbagai cerita diatas kita bisa mengambil hikmah sekarang ini, betapa murahnya moral bangsa ini bersama para pejabatnya saling mencurigai dan saling membunuh karakter.

Begitu juga ketika Amin Rais berada dalam pusaran gerakan Aksi Bela Islam I – IV yang akhirnya setkempok (didendamkan) oleh lawan politiknya dengan palugodam isu dugaan korupsi terima dana alkes. Padahal haruslah di ketahui dana 600 juta yang diperolehnya dari pengusaha sekaligus politisi PAN Sutrisno Bachir.

Ini masih peraduga, kalau menerima dari Sitti Fadilah Supari langsung mungkin saja, lha ini diterima dari perusahaan SB sekaligus donatur Amin Rais kemana saja dalam konsolidasi partai atau apapun kegiatannya.

Sungguh ironi para kawanan lawan politik, memakai KPK dan KPK sendiri mau saja dipolitisasi begitu saja oleh penguasa. Ini harus menjadi catatan kita bersama, kalau tidak terbukti menerima secara langsung dan hanya berupa pembiayaan partai, maka JPU KPK sudah termasuk melakukan kerusakan atas persatuan nasional. Apalagi sebelumnya ada dugaan jenderal datangi Amin Rais agar ketemu dengan Bos besarnya. Mungkin saja akan dijebak dengan uang atau apapun namanya. Seketika tidak berhasil membujuk lalu. elakukan fitnah sana sini melalui KPK RI.***

Penulis aktif di Global Base Review (GBR)

LEAVE A REPLY