Rangkong, sang pelestari Taman Nasional Lore Lindu

0
101
Burung Rangkong di Taman Nasional Lore Lindu. Foto : triptrus.com

Lore Lindu (TNLL) merupakan salah satu taman nasional di Sulawesi yang ditetapkan sebagai  Cagar Biosfir oleh UNESCO pada tahun 1977. Taman Nasional yang terletak di Sulawesi Tengah dan berjarak sekitar 60 kilometer selatan kota Palu ini, kaya akan berbagai flora dan fauna, salah satu diantaranya adalah burung Rangkong atau biasa dikenal dengan burung Halo atau Enggang, tak hanya cantik dipandang, tapi juga turut berperan melestarikan hutan.

Foto : Prasetyo Nugroho

Dikutip dari wikipedia, Rangkong (bahasa Inggris: Hornbill) adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya “Buceros” merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti “tanduk sapi” dalam Bahasa Yunani.

Burung Rangkong tergolong dalam familia Bucerotidae yang termasuk 57 spesies. Sembilan spesies daripadanya berasal endemik di bagian selatan Afrika. Makanannya terutama buah-buahan juga kadal, kelelawar, tikus, ular dan berbagai jenis serangga.

Menurut catatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Operasi Wallacea (Opwall) Trust, saat ini terdapat 57 spesies burung Rangkong di dunia.

Berperan Melestarikan Hutan

Foto : Prasetyo Nugroho

Sebagai burung pemakan buah, burung Rangkong mampu membawa buah yang telah masak sampai 10 persen dari berat tubuhnya. Buah yang dikonsumsi berasal dari berbagai pohon ara seperti beringin (Ficus spp). “Keberadaan burung ini sangat penting dalam merehabilitasi hutan dan lahan,” kata aktivis Opwall Edi Purwanto seperti dikutip dari Majalah Greeners.

Burung Rangkong membutuhkan pohon ara atau beringin berukuran besar sebagai tempat bersarang saat bertelur dan memelihara anaknya. Menurut field naturalist Opwall Henry Ali Singer, sedikitnya ada 30 jenis pohon ara yang menjadi sumber pakannya.

Foto : Prasetyo Nugroho

Dalam perjalanan mengarungi rimbunya tajuk hutan, buah yang tersimpan diparuh burung Rangkong yang panjang terkadang jatuh. Buah yang diseleksi dengan baik ini kemudian secara mudah akan bersemai menjadi tanaman baru.“Burung ini berperan dalam penyebaran biji pohon hutan sehingga dapat tumbuh dan menyebar secara alami,” kata Ali Singer saat bercerita tentang burung Rangkong beberapa waktu lalu.

Berkat peran burung Rangkong, sang penyebar biji itu, hutan-hutan tropis Indonesia mampu menyembuhkan dirinya dari berbagai kerusakan.

 

Jumlah burung Rangkong di hutan-hutan Sulawesi dianggap masih cukup banyak karena burung ini tidak dianggap sebagai hama petani. Namun karena pertimbangan ekologis serta penyebaranya yang terbatas, burung ini termasuk satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang, yang artinya siapa pun dilarang menangkap, melukai, menyimpan, memelihara dan memperdagangkan burung Rangkong dalam keadaan baik maupun mati.

Danau Lindu. Foto : dok Wikipedia

Kawasan Taman Nasional Lore Lindu selain menjadi habibat atau area jelajah burung Rangkong, juga menjadi habitat mamalia asli terbesar di Sulawesi. Anoa, babirusa, rusa, kera hantu (Tangkasi), kera kakaktonkea, kuskus marsupial dan binatang pemakan daging terbesar di Sulawesi, musang Sulawesi hidup di taman ini. Taman Nasional Lore Lindu juga memiliki paling sedikit 5 jenis bajing dan 31 dari 38 jenis tikusnya, termasuk jenis endemik.

Sedikitnya ada 55 jenis kelelawar dan lebih dari 230 jenis burung, termasuk maleo, 2 jenis enggang Sulawesi yaitu julang Sulawesi dan kengkareng Sulawesi. Burung enggang benbuncak juga disebut rangkong atau burung allo menjadi penghuni Taman Nasional Lore Lindu.

Disamping kekayaan dan keunikan sumberdaya alam hayati, taman nasional ini juga memiliki kumpulan batuan megalitik yang bagus dan merupakan salah satu monumen megalitik terbaik di Indonesia.

Keberadaan burung Rangkong di Taman Nasional Lore Lindu memang sebaiknya dilestarikan, mengingat burung rangkong berperan penting dalam pelestarian hutan. Melestarikan burung Rangkong berarti sama dengan melestarikan  hutan Indonesia (Marwan Azis)

 

LEAVE A REPLY