Prancis larang penangkaran paus, lumba-lumba dan pesut

0
143
Lumba-lumba. Foto : Ist.

PARIS, TERKINI.COM- Prancis mulai melarang pembiakan lumba-lumba, pesut dan paus pembunuh di tempat penangkaran di bawah peraturan lebih ketat yang diharapkan para aktivis bisa mengakhiri pertunjukan menggunakan hewan-hewan itu.

Dikutip dari AFP, Menteri Lingkungan Hidup Prancis Segolene Royal pada hari Rabu telah menandatangani satu versi perundangan untuk “mengontrol ketat pembiakan lumba-lumba” menurut pernyataan kementerian.

Namun sejak saat itu dia memutuskan aturannya harus “lebih radikal”, ujar Segolene, terutama setelah mengetahui bahwa “beberapa hewan dibius” di akuarium.

Aturan baru melarang penangkaran seluruh paus, lumba-lumba dan pesut, kecuali lumba-lumba hidung botol dan paus pembunuh di akuarium resmi.

Para aktivis pembela hak asasi hewan memuji larangan tersebut sebagai “kemajuan bersejarah Prancis.”

“Ini berarti akhir program pengembangbiakan, pertukaran dan impor,” kata lima kelompok konservasi termasuk One Sound dan Sea Shepherd dalam sebuah pernyataan bersama.

“Tanpa penambahan, ini sederhananya berarti jadwal akhir sirkus laut di wilayah kita.”

Namun kebijakan itu memicu kemarahan Jon Kershaw, kepala taman pertunjukan lumba-lumba Marineland Antibes di bagian selatan Prancis, yang mengatakan kepada koran Var-Matin bahwa langkah itu mengecewakan.

Aturan baru itu juga membutuhkan “peningkatan sedikitnya 150 persen kolam untuk memungkinkan binatang-binatang itu hidup tidak terlalu dekat dengan para pengunjung dan binatang yang lain” menurut kementerian, yang juga melarang perlakuan klorine pada air kolam.

Kontak langsung antara binatang dengan publik sekarang juga dilarang.

Taman-taman air dan akuarium punya waktu enam bulan untuk menyesuaikan diri dengan aturan baru, dan tenggat tiga tahun untuk memperluas kolam-kolam mereka.

Taman-taman air seperti Marineland Antibes atraksi air terbesar di Eropa menghadapi makin banyak kritik mengenai kondisi binatang peliharaan mereka dalam beberapa tahun terakhir. (HS/AFP/Ant)

LEAVE A REPLY