Pilkada DKI, benarkan PDI Perjuangan tak usung Ahok?

0
115

“>Basuki Tjahja Purnama alias Ahok bersama Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Foto : Merdeka.

JAKARTA,TERKINI.COM- Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan  Indonesia (LIPI) Siti Zuhro yakin PDI Perjuangan tidak  mengusung atau mendukung petahana, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dalam pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 mendatang. Banyak alasan yang secara logika tidak bisa diterima jika PDI Perjuangan mengusung Ahok.

“Secara logika tidak mungkin PDI Perjuangan akan mengusung Ahok. Banyak hal yang akan dipertimbangkan PDI Perjuangan untuk tidak memilih petahana itu meski dikatakan Ahok adalah calon kuat saat ini,” ujar Siti
di Jakarta, Kamis (21/7).

Alasan pertama yang menurut Siti yang akan membuat Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri tidak akan mengusung Ahok adalah karena Ahok sendiri bukanlah kader. Sementara PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu secara nasional maupun DKI Jakarta memiliki banyak kader yang bisa diusung.

“Selain itu sejarah Ahok yang tidak pernah loyak pada partai yang pernah mengusungnya mulai dari ketika menjadi Bupati Belitung Timur, anggota DPR sampai ketika menjadi calon wakil gubernur. Dia selalu meninggalkan
partai-partai itu,” tambahnya.

Faktor Ahok yang di awal selalu menggembargemborkan maju menjadi calon independen dan menjelek-jelekan partai politik dan mengelu-elukan teman Ahok yang katanya mampu mengumpulkan 1 juta KTP dukungan, tentunya juga
telah membekas tidak baik buat PDI Perjuangan.

“PDI Perjuangan tentunya tidak mau dijadikan seperti sekoci ketika ternyata muncul keraguan dalam proses pengumpulan 1 juta KTP dan dikabarkan bermasalah karena banyak manipulasi. Ketika bermasalah baru
Ahok mendekat, tentunya  PDI Perjuangan tidak mau diperlakukan seperti itu,” tegasnnya.

PDI Perjuangan tentunya juga mempertimbangkan resistensi masyarakat Jakarta terhadap Ahok.
“Dulu ketika Fauzi Bowo jadi petahana, resistensi itu hanya pada soal powerfullnya saja dan tidak ada sentimen-sentimen ataupun isu-isu lain. Namun dalam kasus Ahok, banyak sekali resistensi seperti adalah permasalahan hukum, silang pendapat dengan berbagai pihak termasuk institusi baik di pusat maupun daerah sendiri. Dulu era Foke tidak ada sampai gerakan anti Foke, tapi sekarang banyak sekali gerakan anti Ahok.Ini tentunya  juga akan menjadi pertimbangan,” tegasnya.

Terkait banyaknya survei termasuk survei SRMC yang mengatakan bahwa 87 persen pemilih PDI Perjuangan akan memilih  Ahok, Siti tidak mempercayainya. Dirinya mengaku sangat selektif dengan hasil-hasil survei yang dipublikasikan karena kebanyakan hanya merupakan upaya mempengaruhi opini publik itu sendiri.

“Sejak 2008 saya tidak percaya survei begitu saja, karena banyak survei pesanan.Kalau sekarang dikatakan Ahok nomer satu, yah  jelas saja karena memang belum ada lawan yang sudah mendeklarasikan diri dan mendapat cukup dukungan partai. Kalau mau hasil survei benar, maka seharusnya calon itu seimbang,sama-sama punya dukugan partai, dikontestasikan, baru disurvei.Lah ini belum ada lawan kok disurvei, yah jelas menang, wong 
belum apa-apa sudah  dilakukan penilaian,” tegasnya.

Siti sendiri yakin bahwa jika PDI Perjuangan mengusung kadernya sendiri seperti Jarot atau Risma, maka akan lebih mendapatkan dukungan karena resistensi terhadap mereka sangat kecil.Risma terutama menurut Siti
dikenal sebagai pemimpin yang lugas dan jujur serta mampu mengeksekusi kebijakan tanpa harus ribut dengan lembaga-lembaga lainnya.

”Kalau survei di Surabaya, Risma dijagokan,yah  wajar karena memang tidak ada lawan dan Risma tidak memiliki resistensi seperti halnya Ahok di Jakarta. Sama seperti survei Bupati Banyuwangi, Azwar Anas juga seperti survei Risma,” imbuhnya.

Sikap PDI Perjuangan yang akan menolak Ahok sendiri menurut Siti tentunya berbeda dengan sikap Partai Golkar yang meski memiliki kader-kader yang kuat, tapi tetap mendukung Ahok yang non kader.

“PDI Perjuangan itu pemanang pemilu berbeda dengan Golkar. PDIP dengan jumlah kursi 28 dari 22 kursi yang disyaratkan tentunya mampu mengusung sendiri calonnya sama seperti PKS di zaman dulu. Partai pemenang tentunya juga memiliki obsesesi untuk mengusung calonnya sendiri,” tandasnya. (Jay)

LEAVE A REPLY