Peringati Pancasila dengan langkah nyata

0
60
Hayono Suyono bersalaman dengan mahasiswi peserta KKN UNSOED. Foto :
Oleh : Prof. Dr. Haryono Suyono*


Hari ini tanggal 1 Juni 2017 kita peringati sebagai Hari Lahir Pancasila karena pada hari dan tanggal itu Bung Karno, dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai, “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan” di Jakarta mengucapkan pidato dengan judul Pidato Pancasila.

Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal “Pancasila” pertama kali dikemukakan sebagai dasar negara Indonesia yang merdeka.

Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara oral tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut.

Penulis : Haryono Suyono

Kisah lahirnya Sidang dan Pidato itu dikenal sebagai siasat Jepang untuk menarik simpati para pejuang kemerdekaan karena menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha mencari kawan dan mengamankan kedudukannya dengan menarik hubungan yang makin erat dengan para pemimpin pejuang bangsa.

Antisipasinya menarik mereka adalah agar kemerdekaan negara ini dan pasukan Jepang di Indonesia menjadi sahabat yang melindungi negara baru itu. Oleh karena itu para Pemimpin Jepang ikut bermain merencanakan dukungan terhadap rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai, suatu “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan” atau BPUPK, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan “Indonesia”.

Rapat yang dimulai akhir bulan Mei itu mendengarkan beberapa pandangan para sesepuh bangsa. Setelah beberapa hari pertemuan itu diisi pidato oleh beberapa pembicara yang mengemukakan pendapatnya, pada tanggal 1 Juni Bung Karno mendapat giliran untuk berpidato.

Pidato beliau tentang dasar negara dan diberinya judul “Pancasila”. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota.

Hari ini Pancasila tidak lagi sebagai bayi. Negara yang dilahirkan atas dasar falsafah itu sudah tumbuh besar menjadi negara demokratis dimana setiap warganya diharapkan memberi sumbangan nyata atas dasar falsafah yang mengemban pesan bebas berkarya dalam kebersamaan penuh gotong royong.

Suatu falsafah yang mengandung pesan agar tidak boleh ada satu warga yang ditinggalkan dalam proses pembangunan. Tidak boleh ditinggalkan dalam merancang pembangunan, dalam partisipasi melaksanakan pembangunan dan akhirnya harus bisa ikut menikmati hasil-hasil pembangunan.

Itulah sebabnya pada awal pembangunan secara besar-besaran setelah bangsa Indonesia merdeka, para sesepuh bangsa segera mengembangkan bidang pendidikan secara besar-besaran karena pembangunan memerlukan tenaga bermutu dan terampil.

Gerakan pendidikan besar-besaran terutama diperkuat pada waktu Pak Harto mulai menjadi Presiden dengan pengembangan sekolah dasar, menengah dan tinggi melalui Inpres sekolah dasar, menengah dan penyediaan guru serta fasilitas lainnya.

Selanjutnya pak Harto yang sangat gigih mengisi kemerdekaan dengan dasar Pancasila yang murni itu mempersiapkan tenaga terdidik tidak saja di dalam negeri tetapi secara besar-besaran mengirim tenaga muda ke luar negeri yang akhirnya mengisi berbagai posisi penting termasuk perguruan tinggi yang menyebar di seluruh tanah air.

Tenaga-tenaga tingkat tinggi ini sekarang sebagian besar menjadi pemimpin bangsa, guru besar serta tenaga ahli yang selanjutnya menghasilkan tenaga ahli tingkat tinggi yang tidak kalah dibanding dengan mereka yang dihasilkan oleh sekolah tinggi terkenal di luar negeri.

Lapangan kerja yang sebagian besar di masa lalu hanya sebagai kuli atau tenaga pertanian sederhana di desa, sejak masa pembangunan dibuka industri sehingga tenaga Indonesia bisa bekerja sebagai tenaga industri yang maju dan sanggup memproduksi barang dan jasa yang bisa menguasai pasar dunia.

Pasar dunia yang semula hanya diisi dengan ekspor minyak dan gas bumi digantikan oleh hasil produksi industri yang jauh lebih melimpah karena tenaga ahli dan trampil mampu menghasilkan produk bahan ekspor melebihi hasil tambang yang terbatas.

Lebih dari itu tenaga ahli bangsa Indonesia yang di masa lalu hanya diwakili oleh segelintir manusia istimewa, dewasa ini telah dapat digantikan oleh tenaga muda yang jauh lebih banyak dan dapat diandalkan di dalam maupun di luar negeri. Tenaga ahli Indonesia itu bekerja di dalam negeri sebagai tenaga ahli dan terampil, dan banyak yang bekerja sebagai tenaga ahli dan terampil dengan kedudukan tinggi dan gaji yang besar juga di luar negeri.

Hubungan dengan luar negeri berjalan lancar dan tidak sedikit program dan kegiatan pembangunan di dalam negeri menjadi acuan dan ditiru sebagai model yang berhasil oleh banyak negara. Program KB dan pembangunan manusia yang moncer di tahun 1980 – 1990-an telah menjadi model dunia dan banyak ditiru sebagai model yang unggul.

Guru besar dan dosen berbagai perguruan tinggi di Indonesia, pada tahun-tahun itu sempat menjadi model dosen dan ikut mendirikan sekolah tinggi di berbagai negara. Beberapa perguruan tinggi di negara sahabat itu pada waktu ini justru menjadi universitas ternama dan tidak kalah dengan perguruan tinggi yang mengirim dosen yang ikut membangunnya di masa lalu.

Tantangan ke depan bangsa ini adalah bagaimana budaya gotong royong kebersamaan dan prinsip untuk mengajak semua pihak bekerja bersama untuk kepentingan orang banyak sebagai wajah Pancasila tetap bisa diabadikan mengalahkan ego pribadi yang ingin menang sendiri, kalau perlu meninggalkan kawan dan sahabatnya karena tidak ikhlas melihat sesama maju dan mengembangkan keberhasilan yang mengangkat bangsanya.

Kekuatan modal budaya yang dibangun oleh nenek moyang yang secara aklamasi diterima di sidang persiapan kemerdekaan tetap perlu dijadikan pedoman dasar yang kuat dan tidak tergoyahkan oleh keinginan individu yang ingin menonjol meninggalkan budaya bangsa.

Modal budaya tidak boleh ditinggal oleh modal finansial yang mengantar mereka yang kaya menjadi agen tunggal yang sanggup meninggalkan lingkaran-lingkaran kecil yang sesungguhnya memiliki kekuatan maha dahsyat karena merupakan aneka warna yang menjadi modal utama dari budaya lokal dan kearifannya yang apabila diramu dalam lingkaran besar, modal nasional itu akan menjadi kekuatan maha dahsyat atas dasar aneka ragam budaya dan kearifan lokal yang berakar kuat dalam masyarakat lingkaran kecil aslinya.

Model inilah yang perlu seorang pemimpin yang sanggup dan memiliki wibawa untuk membawa Negara Kesatuan RI yang majemuk ini bersatu menjadi suatu model dengan kepemimpinan yang mengayomi semua kekuatan bangsa yang majemuk tetapi sanggup bersatu dalam dinamika yang tinggi, terarah, tepat sasaran dan damai***

*Penulis adalah Mantan Menko Kesra dan Taskin RI.

LEAVE A REPLY