Pelestarian Taman Nasional Laut Sawu Perlu Melibatkan Masyarakat

0
55
Paus di Laut Sawu. Foto : KKP.
JAKARTA, TERKINI.COM- Laut Sawu, atau biasa dikenal dengan Taman Nasional Perairan Laut
Sawu (TNPLS) merupakan kawasan perairan yang terbentang di jantung Nusa
Tenggara Timur (NTT) seluas 3,35 juta Ha mulai dari gugusan kepulauan
Flores, Sumba, Timor dan Alor (Flobamora). Laut Sawu memiliki sebaran
terumbu karang yang luas dan beragam spesies yang harus dilindungi.
Taman Nasional Perairan Laut Sawu (TNPLS) di Provinsi Nusa Tenggara Timur
ditetapkan sebagai Taman Nasional Perairan (TNP) berdasarkan Keputusan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.38/MEN/2009. TNPLS mencakup 10
kabupaten.
Penetapan TNPLS yang berada di wilayah segitiga terumbu karang (coral triangle)
dunia merupakan perwujudan dalam rangka mendukung upaya kelestarian,
perlindungan, dan pemanfaatan ekosistem perairan Laut Sawu. Pasalnya
Laut Sawu sangat ideal dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari
penelitian, kegiatan yang menunjang perikanan berkelanjutan, hingga
wisata perairan.
Sejauh ini, TNPLS merupakan habitat penting bagi beragam jenis biota laut,
seperti 22 spesies mamalia laut yang terdiri dari 14 spesies paus, 7
spesias lumba-lumba dan 1 spesies dugong. Tidak hanya itu, TNP Laut Sawu
juga merupakan habitat bagi 6 spesies penyu. Laut Sawu juga kaya akan
beberapa jenis ikan, seperti, kerapu (Grouper), Humphead/Napolean
(Cheilinus Undulatus), Hiu (Charcanidae), Bumphead parrotfish
(Bolbometopon muricatum), Pari Manta (Manta byrostris), dan Tuna Sirip
Kuning (Thunus albacores).
TNPLS meliputi kawasan seluas 3,35 juta hektare, terbagi atas dua zona yakni
wilayah perairan Selat Sumba dan sekitarnya seluas 567.165,54 hektare
dan wilayah perairan Pulau Sabu, Rote, Timor dan Batek seluas 2,9 juta
hektare lebih.
Rizya Ardiwijaya, Science Specialist TNC yang menjadi narasumber dalam
kegiatan Pelatihan Identifikasi Terumbu Karang yang diadakan oleh Eco
Diver Journalists menuturkan. TNPLS memiliki beragam jenis kekayaan
sumberdaya alam yang memukau. Sayangnya, kekayaan itu belum sepenuhnya
digali dan dipergunakan secara optimal.
“pertama, laut sawu ini belum banyak di explore, belum begitu banyak data,
informasi dari laut sawu yang kita peroleh”, ujar Rizya.
Sebagai contoh untuk jenis terumbu karang. TNC mencatat masih ada kemungkinan ditemukannya species baru.
“kita masih menemukan beberapa spesies, yang kita belum bisa identifikasi,
jadi masih ada kemungkinan ada spesies2 baru yang belum ditemukan”,
papar Rizya.
Sejak ditetapkan sebagai kawasan konservasi pada Maret 2009, hingga kini
belum banyak aksi nyata di lapangan. Namun upaya pemerintah
menetapkannya sebagai sebuah kawasan perlindungan laut, patut
diapresiasi.
“Peran pemerintah sudah cukup bagus, dibuktikan dengan ditetapkannya Taman
Nasional Laut Sawu. Ini merupakan salah satu peran pemerintah yang
sangat besar sebagai upaya mewujudkan kawasan konservasi perairan seluas
20 juta ha pada 2020”, ujar Rizya.
Sementara disisi lain, pemerintah daerah, mulai dari tingkat provinsi hingga
kabupaten masih berupaya untuk menemukan cara yang pas, agar kebijakan
yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dapat terlaksana dengan
baik. Pasalnya, pola-pola pemanfaatan yang tak berpihak pada lingkungan
masih kerap terjadi, mulai dari praktik penangkapan ikan menggunakan
racun, pemboman ikan, juga eksploitasi kawasan pesisir seperti
penambangan pasir pantai dan karang mengakibatkan kemerosotan lingkungan
di kawasan perairan tersebut.
“ini merupakan pekerjaan rumah yanga sangat berat, namun kami yakin, usaha
itu pasti bisa terlaksana jika kita melakukannya selama bersama-sama”,
ungkap Rizya.
Pelibatan Masyarakat Sebagai kawasan “Golden Triangle” atau gugusan segitiga karang dunia, perairan Laut Sawu menyimpan lebih dari 65 persen potensi lestari sumber daya
ikan, dan aneka jenis terumbu karang. Jika tidak dilakukan pembenahan
dan pengawasan maka dalam waktu dekat potensi kekayaan alam itu akan
lenyap.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan pemberdayaan masyarakat.
Masyarakat yang menjadi ujung tombak dari pengelolaan kawasan konservasi
diharapkan mampu berperan aktif mengurangi tingkat degradasi lingkungan
yang terjadi.
Dan, adalah TNC (The Nature Conservancy), NGO internasional, satu diantara
banyak elemen yang peduli terhadap kelestarian ekosistem Laut Sawu.
Pendekatan kegiatan konservasi berbasis masyarakat telah menjadi
prioritas mereka sejak beberapa tahun terakhir.
Beberapa kegiatan yang telah dilakukan berada di ekoregion Sunda Kecil. Di Sunda
Kecil terdapat sejumlah kawasan koservasi laut yang meliputi provinsi
Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Maluku itu. Termasuk
Taman Nasional Perairan Laut Sawu (TNPLS) yang telah ditetapkan oleh
Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai kawasan perlindungan laut.
“Untuk mendukung pengelolaan TNPLS, TNC menginisiasi nota kesepahaman untuk
pelibatan masyarakat di 10 kabupaten pesisir,” ujar Rizya.
Dia menuturkan, ancaman masyarakat setempat terhadap sumber daya perairan
di TNPLS sebenarnya relatif minim. Hal itu tak lepas dari latar belakang
penghidupan masyarakat yang umumnya bertani. Ditambah lagi, ada
kearifan lokal, memberi kesempatan pada masyarakat untuk memanen hasil
laut pada waktu tertentu.
Masalahnya, ada ancaman dari nelayan pendatang yang berasal dari luar. Mereka
bahkan menggunakan alat tangkap tak ramah lingkungan, bahkan bom ikan
yang akan menghancurkan terumbu karang.
“Makanya pelibatan masyarakat setempat sangat penting untuk bersama-sama menjaga
agar sumber daya kelautan tetap berkelanjutan,” kata Rizya.
Ekoregion sunda kecil sendiri meliputi 35,8 juta hektare laut dan 10.886
kilometer garis pantai. Wilayah tersebut merupakan tempat perlintasan
setidaknya 21 jenis paus. Sementara terumbu karangnya memiliki
keanekaragaman yang tinggi dengan 523 species dimana 11 diantaranya
adalah endemik. Sedang untuk jenis ikan tercatat ada 1.783 spesies
dengan 25 diantaranya merupakan spesies endemik.
Menurut Rizya, terdapat 100 areal dengan luas 9,7 juta hektare yang berpotensi
menjadi kawasan lindung di ekoregion sunda kecil. Untuk itu
mengintegrasikan dan membangun jejaring pengelolaan kawasan konservasi
menjadi sangat penting untuk memastikan upaya perlindungan sumber daya
alam laut di sana dilakukan secara terpadu. (Jekson Simanjuntak)

LEAVE A REPLY