Move On

0
87

Oleh : Iwan Sams*

Pengiriman ribuan karangan bunga ke Balai Kota DKI Jakarta itu bukan kejadian yang berdiri sendiri. Itu semua terkait dengan hari H tepat saat pencoblosan dilakukan. Inilah yang terjadi di kubu Basuki-Djarot sepanjang hari itu ketika kemudian muncul bencana.

Akibatnya fatal. Gagal move on. Informasi ini dikumpulkan dari serpihan-serpihan yang berserak. Lalu dirangkai jadi satu dan kemudian ditulis ulang supaya utuh. Bahkan semua hoax yang belakangan muncul pun ternyata semua terkait dengan simpul kejadian sebelumnya.

Rabu pagi itu, 19 April semua bersiap. Sejak pagi ruang konperensi pers di Hotel Pullman, jalan Thamrin Jakarta, sudah usai berdandan. Ballroom yang menjadi Posko Pemenangan itu sudah dipesan hari sebelumnya.

Di atas panggung dihias dengan kalimat Kemenangan. Tampak gambar bendera enam partai politik pendukung Paslon nomor dua berjejer rapi di bagian bawah spanduk yang lebar. Golkar, Hanura, Nasdem, PPP, PKB dan tentu saja PDIP.

Nah, lambang-lambang partai politik itu mengusung sebuah Tulisan warna hitam di atasnya: ‘#Ba2ukiDjarotMenang‘. Sebuah perpaduan huruf dan angka warna hitam nan kontras yg tercetak di atas sebentang besar kain putih.

Tulisan itu dimaksudkan untuk menjadi hashtag Kemenangan. Karena beberapa jam ke depan, bisa dipastikan hashtag #Ba2ukiDjarotMenang akan memuncaki Trending Topic Dunia di medsos. Juga menghiasi layar televisi.

Di atas dua meja panjang bagian depan, telah digelar taplak bermotif kotak-kotak berlipit indah. Disisinya berjejer rapi kursi-kursi yg akan diduduki Paslon Pemenang dan Para Ketua Partai Pengusung.

Motif taplak itu persis sama dengan motif baju kotak-kotak, yg selama ini diyakini begitu lekat membawa aura kemenangan. Di sudut-sudut ruang, sound system telah siap membahanakan Pekik Kemenangan.

Semua membayangkan, Rumah Lembang yang kerap penuh dengan gelak tawa itu, tak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan suasana riuh gembira siang nanti. Semua siap berpesta pora. Pesta kemenangan.

Bagai halaman Rumah Pegangsaan yang legendaris itu, ruangan tempat akan diproklamasikannya Kemenangan Ahok-Djarot inipun, akan menjadi saksi sejarah sebuah kemenangan pilkada yg sangat mengharu-biru.

Sebuah Pertarungan yang menghabiskan tenaga, suara, sembako, sapi, dan kursi roda.
Betapa sebuah kemenangan pilkada rasa Pilpres telah di ambang mata. Siang itu, di ruang itu, sebuah skenario yg rapi, rekaman pemandangan yg indah, dan rencana perayaan meriah, telah selesai dipersiapkan. Ribuan order karangan bunga juga sudah dilakukan.

Tak jauh dari Hotel megah itu, hanya berjarak sepelemparan pandang, Bundaran Hotel Indonesia pun akan disesaki pemandangan kotak-kotak merah hitam. Relawan yang diwawancarai stasiun televisi menyebutkan, ribuan manusia dari berbagai penjuru telah bersiap datang ke tempat itu. Transportasi dipesan. Atribut-atribut sudah di tangan. Spanduk siap untuk dibentangkan.

Ia mematangkan rencana untuk mengambil alih lebih dulu lokasi itu, sebelum dikuasai oleh kubu lawan. Rencana pihak lawan bahwa mereka akan menuju Monas dan memilih menyesaki shalat Maghrib berjamaah di Masjid Istiqlal jika jagoannya menang, rupanya tak terendus oleh mereka sama sekali.

Memang Bundaran HI selama ini adalah kawasan demonstrasi yang strategis. Gambar-gambar yang direkam di sekeliling air mancur dan patung Selamat Datang yang tegas menjulang itu, selalu menakjubkan.

Apalagi ini Pilkada Jakarta. Rekaman Perayaan Kemenangannya akan terumbar hingga ke mancanegara. Memenangi Bundaran HI berarti melengkapi simbol-simbol Kejayaan. Pendukung Basuki-Djarot yakin betul bahwa jagoannya akan menang. Haqul Yaqin.

Tak hanya di tengah kota Jakarta. Di pulau-pulau yg bertebaran di Teluk Jakarta pun, Pesta Besar Kemenangan telah disiapkan. Dua puluh tiga sapi besar nan sehat siap mengenyangkan perut-perut manusia di seberang lautan.

Kapal yang disewa khusus untuk mengangkut hewan-hewan bernilai ratusan juta di hari tenang itu, telah berangkat lebih dahulu.
Sapi-sapi itu melaju di atas keruhnya lumpur reklamasi dan kapal-kapal nelayan, tanpa menunggu lebih dulu datangnya hari pencoblosan, maupun menanti selesainya penghitungan suara.

Toh pekik Juara sudah di sudut bibir, harumnya aroma angka hitung cepat telah tercium, dan gempita kemenangan sudah di pelupuk mata. Semua berdebar-debar menunggu. Mereka yakin menang.

Akhirnya, sampailah semua di hari Rabu yang pongah. Detik demi detik terlalui. Menit demi menit terlampaui, dan jam pun terlewati. Dan begitulah. Cerita berakhir jauh dari harapan. Mata-mata nanar menatap layar kaca. Hati remuk redam dilanda kegundahan.

Gelap dan kelam. Kenyataan itu datang bersama sore. Galau, gulana, dan rasa terhempas mewarnai senja. Gulita bergayut merata di Pullman, di pancuran HI, di pulau-pulau, di sudut-sudut kota, dan di pelosok-pelosok hati.

Tim Sukses ahli merencanakan. Rakyat cerdas memutuskan. Dan Tuhan Yang Maha Menentukan. Pesta kemenangan gagal terselenggara. Dan tentu saja kekalahan tidak mungkin dibikin pesta.

Hari ini, terhitung hari hisab di bawah langit Jakarta itu sudah beberapa hari berlalu. Tapi mendung masih menggelayut di sebagian hati warga Jakarta. Tanpa disadari, kadang proses Pilkada menjadi cerminan watak dan nafsu tentang bagaimana kekuasaan kelak akan dijalankan.

Cara kampanye yang brutal dan politik uang menjadi barometer keserakahan. Sebagian yang bijaksana mengatakan, manusia hanya memanen apa yg dia tanam. Dan setiap dari kita akan dipaksa mengunduh apapun hasil dari perbuatan.

Memang betul. Merencanakan sebuah pesta kemenangan itu lebih mudah. Bahkan seolah jadi keharusan. Padahal kekalahan lah yang seharusnya lebih dipersiapkan.

Move On. Move On. Seringkali nasihat itu hanya berlaku untuk orang lain. Tak terbayangkan sebelumnya jika kata-kata yg mudah meluncur dari bibir orang berbaju kotak-kotak itu, bahkan tidak pernah pergi kemana-mana. Karena nasehat itu ternyata diperlukan untuk mengobati perih di diri mereka sendiri.

“Pain comes with time.. but Time will heal the pain.”

Semoga sang Waktu akan menyembuhkan luka-luka itu. Semoga Ribuan Bunga-Bunga dapat mendamaikan hati yang terlanjur luka menganga.

*Terima kasih pada dr Agi Betha yang menginspirasi. Ditulis ulang dengan sedikit perubahan.

*Penulis adalah aktivis KAHMI dan juga berprofesi sebagai jurnalis.

LEAVE A REPLY