Minahasa Merdeka”, Reinkernasi “Permesta ?

0
119
Radar Manado yang memberitakan deklarasi Minahasa Merdeka.

*) Testimoni Derita Perang Saudara

Oleh : Derek Manangka*

Boleh jadi tidak banyak yang sadar atau lupa sejarah. Bahwa 60 tahun lalu, Indonesia pernah dilanda  sebuah Perang Saudara, selama 4 tahun. Waktunya singkat, tapi korbannya tak terhitung.

Perang Saudara, sebab yang saling membunuh adalah sesama bangsa dan rakyat Indonesia sendiri.

Perang yang dimaksud  adalah perang antara pemerintah Pusat di Jakarta, dengan pembangkang di Manado.

Perang tersebut  “Permesta” (Perjuangan Rakyat Semesta) yang meletus di Tanah Minahasa. Daerah ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang banyak dihuni oleh etnis Manado.

Derek Manangka

Ingatan akan “Perang Saudara Permesta” mengemuka, sebab Sabtu pekan lalu tersiar berita bahwa Senin 15 Mei ini, dijadwalkan pengerahan massa ke kantor Gubernur Sulawesi Utara (Sulut). Tujuannya menuntut digelarnya sebuah referendum di daerah itu.

Dan yang menuntut penyelengaraan referendum, mereka yang mengaku, mendukung berdirinya sebuah negara bernama “Minahasa Merdeka”.

Walaupun  belum jelas agenda lengkap dari referendum dimaksud, tetapi yang bisa dipahami, “Minahasa Merdeka”, jelas sebuah pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah.

Saya tidak peduli kabar itu hoax atau hanya bentuk ekspresi kekecewaan terhadap Gubenur dan Wakil Gubernur Sulut yang telah menghadirkan politisi Fahri Hamzah pekan lalu di Manado, Tanah Minahasa.

Kepedulian saya hanya satu ; mendirikan sebuah negara di dalam negara, bukanlah sebuah ide yang brilliant.  Memecah persatuan bukanlah sebuah pekerjaan yang  bermartabat dan heroik.

Sebaliknya menjadi promotor atas terjadinya sebuah perpecahan, sebagai cermin atas gagalnya memahami kecenderungan dunia. Sebab sejatinya lebih banyak manusia di dunia yang ingin bersatu.

Yang ingin perpecahan itu hanya segelintir elit. Mereka yang tidak punya massa lalu membeli dan mencari massa agar bisa mengkleim sebagai pemimpin yang punya massa.

Tidak percaya ? Lihat dan simak bagaimana Jerman yang dulu terpecah atas Jerman Barat dan Jerman Timur yang  sejak 1989, bersatu menjadi Satu Jerman.

Tembok Berlin yang membelah dua negara, diruntuhkan agar tak ada penyekat antara sesama Jerman.

Negara-negara di Eropa yang ratusan tahun terpecah,  tapi pada 1 Maret 1993, mereka bersatu, di bawah satu atap Uni Eropa. Sebuah perkumpulan yang beranggotakan 27 negara.

Tahun lalu, Inggeris memang keluar dari Uni Eropa melalui sebuah referendum. Namun hasil referendum yang dikenal dengan sebutan Brexit itu tidak diakui oleh anggota lainnya Kerajaan Inggeris Raya. Sehingga masih menjadi pertanyaan, referendum yang memecah Uni Eropa masih bisa kuat legalitasnya.

Konsep memecah sebuah negara atau persatuan semakin tidak sesuai dengan zaman, setelah hadirnya teknologi internet dan informasi. Dunia justru dipersatukan oleh internet. Dunia tanpa penyekat.

Saya bukan ahli konstitusi, sehingga pertanyaan saya –  apakah aksi “Minahasa Merdeka” sebuah kegiatan makar, pemumbangan atas kekuasaan yang sah atau semata-mata sebuah wujud dari kebebasan berdemokrasi ?

Namun apapun jawabannya, tak lagi menjadi sebuah persoalan.

Yang menjadi kepedulian. sebagai putera kelahiran Tanah Minahasa, yang semasa kecil pernah mengalami pahit getirnya perjuangan orangtua di dalam “Permesta”, saya merasa memiliki kredibiltas dan akuntabilitas untuk bersuara. Dan suara itu isinya menolak berdirinya “Minahasa Merdeka”.

Karena cita-cita mendirikan negara “Minahasa”, sebuah agenda untuk memecah bangsa.

Pengalaman getir di era “Permesta”,  bukan sebuah cerita fiksi. Melainkan kisah nyata.

Walaupun ada yang membanggakan pemberontakan “Permesta”, sebagai pewujudan atas indentitas rakyat Minahasa – pemberani dan “risk taker”, tetapi saya selaku generasi muda “Permesta” tidak menyukainya.  Itu sebuah kebanggaan semu.  Yang tidak memberi “added value”.

Pengalaman sekaligus menyaksikan kejadian langsung “The aftermath Permesta”, itulah yang menjadi alasan utama.

Dalam usia yang relatif masih blo’on, saya sudah menyaksikan di sebuah desa bernama Warisa, di Minahasa Utara. Betapa nyawa manusia itu zaman “Permesta” dalam era peperangan, pergolakan atau konflik, seperti halnya hanya sama dengan nyawa seekor  hewan piaraan. Yang sewaktu-waktu bisa kita bunuh untuk menjadi santapan.

Nyawa manusia yang diberikan oleh Tuhan Sang Maha Pencipta, menjadi sangat tidak berarti.

Bagaimana tidak, ada seorang “musuh” yang ditangkap oleh anggota “Permesta” dalam keadaan hidup-hidup. Dalam hitungan menit sudah berubah seperti wujud seekor hewan tanpa nyawa.

Definisi “musuh” itu kriterianya, seperti karet. Setiap orang bisa mendefinisikan siapa yang patut diberi label seorang “musuh”.

Setelah ditangkap, kemudian dalam waktu singkat sudah menjadi semacam “sate”. Mahluk manusia tadi, dalam keadaan hidup, setelah diikat ketat seluruh badannya, dilempar ke sebuah tempat pembakaran biji kelapa untuk menjadi kopra.

Dalam keadaan kesakitan tapi tak bisa bergerak, bara api yang demikian panas, membakar dari bawah dan secara pelan tapi pasti, sang mahluk manusia akhirnya berhenti bernafas.

Bara api terus dibesarkan sehingga satu demi satu pakaian yang membungkus si korban, terkelupas. Setelah tiba giliran api membakar mayat tersebut, semua dagingnya  menjadi seperti potongan daging yang bisa di-barbeque atau disate.

Jangan kaget kalau saya bilang, ada loh manusia yang tega memakan daging manusia seperti menyantap sate ayam.

Di pertengahan tahun 1950-an itu, tidak ada kamera digital atau hand phone. Sehingga peristiwa itu hanya seperti sebuah “dongeng”.

Tapi dongeng sebagai akibat dari Perang Saudara itu, sangat membekas.

Kalau cerita itu bisa difilmkan, mungkin penonton baru akan sadar bahwa di Tanah Minahasa yang terkenal sebagai daerah yang melahirkan banyak pendidik (guru), ternyata di tengah mereka juga hadir manusia berkarakter binatang. Yang memangsa sesama. Mamalia.  Manusia memakan daging manusia.

Saya juga ingat, pada satu malam tertangkap seorang wanita mata-mata. Pesakitan ini kemudian di bawah ke aula Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar), lantas diberi makan, dengan menu lokal pilihan yang lezat.  Dia jadi tontonan rakyat “Permesta”.

Namun  rupanya, makan malam itu merupakan “Her Last Supper”. Sebab setelah itu dia dibawa ke sebuah rumah kosong untuk dikeroyok oleh sejumlah lelaki pengikut “Permesta”.

Para lelaki ini sangat dendam kepadanya. Sebab kabarnya dia membocorkan posisi persembunyian “Permesta” kepada “Tentara Pusat”  yang menyebabkan kematian cukup banyak di pihak tentara “Permesta”.

Selain dendam, mereka juga terjangkit hawa nafsu birahi yang menyala-nyala. Maka wanita itupun sekaligus dijadikan pemuas sex melalui acara ritual.

Seusai makan malam,  sang wanita yang berkulit bening itu, dibawa ke semua pondok di sebuah kebon.

Di sana setiap lelaki yang bernafsu diberi kesempatan mencicipinya. Setelah puas, barulah dibawa ke hutan yang hanya berpenghuni monyet, burung hantu dan kelelawar. Disana dia dieksekusi.

Hidupnya berakhir setelah beberapa peluru dari laras senjata Renville, meghujani tubuhnya.

Begitulah salah satu aturan dan hukum rimba dalam Perang Saudara.

Sehingga bagi saya gambaran Perang Saudara akibat “Permesta”, lebih banyak “agony”-nya dari pada “excited”-nya. Lebih bercerita tentang penderitaan dari pada klimaks kenikmatan.

Kadang-kadang saya bahkan membenci tokoh-tokoh “Permesta” apakah itu Ventje Sumual ataupun Alex Kawilarang. Keduanya sudah almarhum. Atau terhadap mereka yang merasa bangga dengan pemberontakan tersebut.

Sebab secara keseluruhan, tak ada hasil positif yang bisa dipetik dari pemberontakan “Permesta”. Kecuali kemunduran daerah dan tersisihnya generasi berkualitas dalam persaingan.

Sehabis “Permesta” hampir semua orang Manado atau Minahasa, terkena “Permesta Domino Effect”. Mendapat stigma sebagai pemberontak atau orang yang berpikir kedaerahan dan primordial.

Dampaknya untuk masa setengah abad, nyaris tak ada kesempatan putera Indonesia asal Manado atau Minahasa – dipercaya oleh rezim berkuasa untuk menduduki posisi-posisi penting.

Jasa para intelektual asal Minahasa seperti Sam Ratulangi, AA Maramis, Babe Palar, Arnold Mononutu, Walter Monginsidi seperti dihapus oleh hujan bernama “Permesta”.

Ketidak sukaan saya bertambah setelah membaca  literatur,  bahwa “Permesta” hanyalah tumpangan oleh Amerika Serikat untuk menimbulkan kekacauan di Indonesia.

Cara Amerika menumpang, dengan mengadu domba dan memberi janji. Janji semakin dipercaya setelah Amerika memberi bantuan. Mulai dari persenjataan perang, termasuk pesawat tempur, dan penasehat militer .

Keterlibatan AS itu tidak permanen. Ikut berubah, begitu politik global berubah. Bantuan dihentikan dan Amerika sampai sekarang tetap bersikap seolah-olah bersih dalam keterlibatan di “Perang Saudara Permesta”.

Saya tidak pernah menduga generasi orangtua saya yang terkenal pintar-pintar, ternyata bisa dibohongi oleh perwira intelejen Amerika.

Yang paling saya khawatirkan, jika para insiator “Minahasa Merdeka”  – yang wawasan dan pengalaman mereka di bawah Opa Sumual dan Opa Kawilarang, terpengaruh oleh spirit “Permesta”. Atau terbawa oleh  janji.

Misalnya janji bisa menghubungkan mereka dengan otoritas Amerika agar “Minahasa Merdeka” dibantu.

Dugaan ini saya alaskan pada realita. Bahwa bagi generasi muda di Minahasa, Amerika merupakan tanah impian. Orientasi mereka bukan ke Timur Tengah.

Maklum orang-orang Minahasa yang berdiaspora di Amerika saat ini disebut-sebut mencapai angka yang cukup signifikan.

Bahkan ada yang menyebut, warga Indonesia asal Minahasa yang  bermukim di AS saat ini, lebih besar dari jumlah orang etnis Minahasa yang tinggal di Manado.

Benua Amerika sendiri, letaknya hanya di telapak tangan yang ada jari jemari. Melalui komunikasi murah dan efektif, hubungan antara Minahasa – Amerika, menjadi sangat mudah.

Di AS sendiri, sudah ada beberapa putera kelahiran AS yang orang tua mereka imigran dari Minahasa atau Manado, telah menjadi anggota Marinir AS.

Informasi ini munucul di beberapa akun Facebook. Dua sahabat yang saya kenal di Jakarta, di tahun 1980an, adalah contohnya.
Jimmy Manese dan Meity Peleh, keluarga asal Minahasa, yang memiliki anak yang sudah berstatus anggota marinir AS.

Informasi ini, sekalipun sifatnya pribadi, tetapi bisa menjadi gambaran dan rujukan bagi mereka yang punya semangat membaja. Bahwa untuk mendapatkan bantuan Amerika bukan hal yang sulit. Pintu masuk ke otoritas AS tersebar di komunitasm orang asal Minahasa.

Selain itu, jumlah aktifis Kristen asal Minahasa yang mendirikan gereja GMIM di Amerika, dari ke tahun, terus bertambah.

Bayangkan di Amerika ada gereja orang asal Minahasa. Namanya Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM).

Gereja di Tomohon, Minahasa sana, bisa punya cabang di New York. Dan yang meresmikan jemaat, pendeta sekaligus gerejanya,  seorang pendeta dari Tomohon, Minahasa, bernama Renata Ticonuwu.

Atmosfir di Minahasa dan Papua, dalam soal memerdekakan diri, letak perbedaannya mungkin berada di sini.

Di Amerika, diaspora orang Papua, boleh jadi tidak ada. Yang ada Komunitas Melanesia.

Atas dasar ini saya berharap pemerintah Pusat khususnya jangan menganggap enteng gagasan “Minahasa Merdeka”.

Pemerintah harus menemukan cara yang efektif, bagaimana mencegah berdiri dan berkembangnya gagasan ”Minahasa Merdeka”.

Karena sekali “Minahasa Merdeka” menjadi sebuah kenyataan,  reinkernasi “Permesta” ini, bakal diikuti oleh tumbuhnya aspirasi separatis serupa  di wilayah lain NKRI.

Suara ini saya sampaikan, dengan catatan “Minahasa Merdeka”, harus dilihat sebagai persoalan nasional, masalah bangsa. ***

*Penulis adalah wartawan senior, tinggal di Jakarta.

LEAVE A REPLY