Membangun Peradaban Dunia Maya

0
85
Penulis : Chamad Hojin

Oleh : Chamad Hojin*

Beberapa waktu lalu masyarakat riuh dengan status Florence Sihombing di jejarng media sosial. Saat itu, mahasiswa magister program Hukum UGM menuliskan kekesalannya terkait antre bahan bakar minyak  di SPBU di Path. Status yang menyinggung masyarakat Yogyakarta tersebut langsung mendapat respon yang beragam.

Awalnya, status tersebut dibaca teman-temannya tak ada yang janggal, bahkan ditanggapi teman dekatnya dengan lelucon. Namun, satu jam kemudian status itu berdampak besar. Pengguna jejaring sosial di luar teman dekatnya menilai status tersebut tidak pantas dan sudah dianggap menyinggung dan provokasi terhadap masyarakat Yogyakarta. Sejak saat itu, malapetaka menghampiri Florence ; dihujat media sosial, dilaporkan ke Polda DIY, hingga mendapatkan skors satu semester dari kampus.

Apa yang menimpa Florence Sihombing hanyalah salah satu persoalan kecil dalam dunia maya yang banyak belum disadari oleh masyarakat, khususnya pengguna jejaring sosial. Mereka yang sudah terkoneksi dengan internet, sebenarnya telah menjalani  dua pola  kehidupann yakni dunia nyata dan dunia maya atau digital.  Kedua dunia tersebut memiliki pola etika budaya, sosial dan juga sistem yang berbeda.  Kondisi tersebut yang belum banyak dipahami oleh masyarakat.

Saat ini lebih dari 4 miliar manusia telah terhubung oleh internet. Mereka tiap detik saling berkomunikasi melintasi batas geograif, budaya, dan juga tatanan nilai sosial di lingkungannya masing-masing. 4 miliar manusia ini  telah membentuk masyarakat bahkan semacam pemerintahan tersendiri. Konflik di dunia nyata seperti  yang terjadi di Palestina-Israel, Ukraina-Rusia, Irak-Kurdi, India-Pakistan, dan belahan dunia lain  mungkin saja sedang berlangsung, tetapi dalam kehidupan maya/digital, bisa saja antar masyarakat mereka saling berkomunikasi dan menyapa secara nyaman. Mereka berperang di dunia nyata, tapi berdamai di dunia maya, bahkan saling membangun persahabatan dan mengatasi konflik bersama.

Fenomena itu yang digambarkan oleh pimpinan Google,  Eric Schmidt dan Jared Cohen dalam buku terbarunya The New Digital Age ; Reshaping the Future of People, Nation and Business. Buku tersebut telah diterbitkan Gramedia dengan edisi terjemahan “Era Baru Digital ; Cakrawala Baru Negara, Bisnis, dan Hidup Kita “.

Buku ini mengungkapkan ancaman sekaligus peluang hadirnya dunia baru yakni dunia digital.  Melalui dunia digital, saat ini sudah tak ada lagi yang rahasia dari sisi kehidupan kita, apa yang kita ungkap melalui dunia maya, langsung terdokumentasikan dan bisa diakses semua orang ;baik itu sisi positif atau negatifnya.  Selain kerahasian individu, kerahasian publik atau negara juga sudah sulit tersimpan. Data kerahasiaan yang didapat dari aktivitas intelijen yang dibuka Snowden beberapa waktu lalu menjadi bukti bahwa negara juga sudah tak bisa membentengi dirinya sendiri.

Namun, disisi lain terkoneksinya masyarakat juga berdampak positif dalam mempercepat demokrasi dan perubahan revolusi sosial masyarakat. Peristiwa Arab Spring di kawasan Timur Tengah sangat dipengaruhi oleh kehidupan sosial dunia maya. Mereka saling terkoneksi antara kelompok masyarakat satu dengan lainnya. Bahkan mereka mampu  mengkonsolidasikan energi perubahan lintas negara (hal ; 127).

Informasi saat ini tidak lagi dimiliki sekelompok elite saja, tetapi masyarakat umum juga memiliki akses yang sama. Mereka bisa mengambil keuntungan yang sama dari terkoneksinya antar manusia, meski dalam titik tertentu prosentasenya tidak sama.  Apakah manfaat itu dalam bentuk kejahatan atau kebaikan untuk masyarakat.

Para teroris bisa saja memanfaatkan dunia digital untuk memperbesar jaringan dan anggota. Begitu juga kelompok anti terorisme juga bisa memanfaatkan jejaring dunia maya untuk menetralisir pengaruh ideologi terorisme.  Semua saling berebut pengaruh pemikiran dan hati masyarakat melalui medium dunia digital (hal; 191). Inilah yang disebut oleh Schmidt dan Cohen sebagai Era Baru Digital.

Fungsi paradoks internet yang telah mencipatkan masyarakat digital harus dipahami secara bijak. Pengambil kebijakan dan masyarakat dunia nyata harus merumuskan  peradaban manusia dalam mengikuti kehidupan dunia maya.

Tak boleh lagi saling acuh, saling menyalahkan terhadap efek perkembangan digital setelah munculnya internet . Perkembangan dunia maya akan terus berkembang secara cepat dalam periodisasi tiga bulanan, bahkan seiring dengan meluasnya internet, perubahan akan datang lebih cepat lagi.

Anda bisa  bayangkan nantinya jika  seluruh manusia di bumi yang saat ini mencapai 7 miliar terkoneksi semua,  maka penduduk dunia maya akan berjumlah dua kali lipatnya. Kini mereka telah membentuk masyarakat sosial dan ekonomi baru,  kemudian dengan cepat telah berubah menjadi masyarakat politik baru seperti yang terjadi di kawasan Timur Tengah melalui Arab Spring. Bisa saja nantinya, masyarakat yang terhubung tersebut akan menjelma dalam bentuk “negara”baru yang memiliki pemerintahan dan kebijakan tersendiri.

Saat ini tugas kita semua tak cukup hanya fokus membangun peradaban dunia nyata saja, tetapi juga harus bersinergi dengan membangun peradaban dunia maya. Sebab, dunia maya kini tengah menjelma menjadi entitas identitas kekuasaan baru yang daya dampaknya sama dengan entitas kekuasaan di dunia nyata. Wallahu A’lam Bi Shawab

*Penulis adalah alumnus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan saat ini aktif sebagai jurnalis Koran Sindo.

LEAVE A REPLY