Memahami langkah politik SBY dan Demokrat di Pilkada DKI

0
231
Mantan Presiden SBY yang juga ketua umum Partai Demokrat. Foto : Ist.

Oleh : Ferdinand Hutahaean*

Publik Jakarta dan Indonesia kemarin tentu harap-harap cemas menunggu keputusan sikap Partai Demokrat dan SBY terkait Pilkada Jakarta.

Banyak yang bertanya akan kemanakah sikap Partai Demokrat dan SBY? Apakah akan mendukung salah satu calon yang berlaga pada tahap dua Pilkada Jakarta? Semua menunggu sikap tersebut.

Bahkan kemarin beredar kabar dipublik bahwa SBY, Partai Demokrat akan menyampaikan sikapnya di Wisma Proklamasi yang menjadi markas Partai Demokrat.

Mungkin kemarin akhirnya banyak yang merasa kecewa dan berakhir anti klimaks atas kenyataan bahwa SBY dan Partai Demokrat belum juga menyatakan sikapnya terkait Pilkada Jakarta.

Ada banyak analisis dan dugaan bahkan ada yang bersikap menilai negatif terhadap SBY dan Partai Demokrat yang belum bersikap mendukung salah satu calon. Padahal kalau lebih cermat, sikap yang diambil SBY saat ini dengan Partai Demokrat adalah juga sebuah sikap tegas, yaitu bersikap belum memutuskan mendukung salah satu calon. Tentu sikap itu bukan terjadi begitu saja, atau sebuah sikap yang tanpa dasar.

Publik jangan lupa dan mengabaikan bahwa SBY adalah seorang maestro negarawan, maestro strategi dan maestro dalam analisis.

Kondisi politik Jakarta saat ini yang memasuki fase menguatirkan dengan sentimen primordialisme tinggi tentu berpotensi melahirkan konflik. Konflik yang muncul dengan didasari sentimen primordialisme berbau SARA tentu akan berakibat sangat fatal terhadap Jakarta dan bangsa secara umum.

Kita tentu bisa melihat bahwa saat ini seolah pertempuran dalam Pilkada ini adalah pertempuran antara poros Islam yang diwakili Anis Sandi dengan poros Kristen dan kaum pendukungnya yang diwakili Ahok Djarot. Hampir setiap hari media sosial menyuguhkan informasi tentang kondisi ini. Tidak bisa dinafikan, memang itulah realita yang terjadi.

Kondisi tersebut menurut saya adalah kondisi yang membuat SBY dan Partai Demokrat untuk menahan diri tidak mendukung salah satu pihak hingga saat ini. SBY adalah seorang negarawan yang pada saat pemerintahannya memimpin Indonesia selama 10 tahun menunjukkan sikap dan kebijakan sebagai penjaga kebinekaan.

SBY sebagai negarawan tentu tidak akan mau terjerumus dan terlibat dalam sebuah kondisi yang mengarah pada konflik berbasis sentimen primordialisme dan berbau SARA. SBY tentu tidak ingin masuk kedalam konflik seperti itu karena SBY semasa pemerintahannya telah membuktikan dalam kebijakannya bahwa perbedaan dan kebinekaan adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga dan bukan untuk dipermasalahkan apalagi dijadikan sebagai dasar pertempuran dalam politik.

Publik yang mungkin sejak dulu menjadi korban operasi propaganda pembentukan opini bahwa SBY berada dibalik aksi umat Islam 411 dan 212 sekarang terpatahkan. Andai SBY adalah sosok yang mau menggunakan isu SARA dan sentimen primordialisme dalam berpolitik, sudah dapat dipastikan bahwa SBY dan Demokrat akan mendukung pasangan Anis Sandi yang bagi publik sekarang diopinikan sebagai representasi Islam.

Tapi mengapa itu tidak terjadi? Mengapa SBY tidak juga mendukung Anis Sandi? Maka jawabannya clear dan terang benderang bahwa SBY hanyalah korban sebuah propaganda negatif yang menggunakan isu SARA dalam politik dan tidak akan pernah menjafikan isu SARA dalam berpolitik.

Seiring dengan semakin terjadinya polarisasi politik pada pilkada putaran kedua ini, maka kemungkinan pecahnya konflik karena sentimen primordialisme dan berbau SARA sangat lah besar. Terlebih sikap penguasa yang tidak menujukkan perhatian serius tentang kondisi ini, dan buruknya malah terlibat dalam konfilk tersebut. Ini tentu sangat mungkin menjadi kekuatiran besar bagi SBY dan Demokrat.

Sentimen primordialisme ini juga telah menghilangkan Indonesia dan Jakarta yang sejak dulu sudah selesai dengan masalah perbedaan. Saya meyakini bahwa faktor ini menjadi faktor utama mengapa SBY dan Demokrat belum menyatakan sikap mendukung salah satu calon.

SBY tentu masih terus mencermati perkembangan politik dan pada waktunya akan menyatakan sikap secara resmi sesuai kebutuhan bangsa, sesuai kebutuhan nasional dan demi kepentingan Indonesia. SBY tidak akan mengambil sikap berbasis kepentingan sesaat terlebih jika mengedepankan sentimen primordialisme.

Dengan demikian, publik yang mungkin merasa kecewa melihat sikap yang belum memutuskan belum mendukung salah satu pihak dalam Pilkada Jakarta tidak perlu kecewa atau bahkan berfikir negatif terhadap sikap SBY maupun Demokrat.

Justru kita harus bangga karena ditengah sentimen kepentingan kekuasaan yang bahkan mengabaikan nasib bangsa, masih ada pemimpin yang perduli dengan bangsa ini agar terhindar dari konflik sosial ditengah masyarakat. Kita tentu bisa menyaksikan bagaimana penguasa juga mengabaikan nasib bangsa demi memenangkan calon yang didukungnya.

Kita melihat bagaimana besarnya sentimen primordialisme yang akan memecah belah bangsa. Inilah yang faktor  yang saya duga menjadi penyebab utama mengapa SBY dan Demokrat belum memutuskan untuk mendukung salah satu pihak.

SBY tidak akan mau terlibat dalam konflik sentimen primordialisme. Kembalikan patron demokrasi ini kepada patron sesungguhnya dan tujuannya semata untuk Indonesia yang lebih baik, untuk kepentingan publik Jakarta yang heterogen bukan karena sentimen yang berbau SARA. Saya meyakini hanya itu yang akan membuat Demokrat dan SBY bersikap mendukung salah satu pihak.

Dan sikap AHY tentu akan didasari juga oleh hal yang sama. Semua harus untuk Jakarta, untuk rakyat dan untuk Indonesia. Dan tentu harus bersedia membawa program AHY sebagai program tambahan dalam visi misi. Tanpa itu AHY pun pasti tidak bersikap mendukung salah satu calon selain karena AHY tidak punya otoritas memerintahkan siapapun untuk memilih calon tertentu. Karena pemberian suara adalah hak demokrasi setiap individu yang merdeka dan bebas. AHY akan menjadi pemimpin rakyat dengn sikap negarawan yang diambilnya.

Jadi kemana kira-kira akhir kisah dukungan Demokrat, SBY dan AHY pada pilkada Jakarta putaran kedua? Semua tergantung pada kondisi politik yang berkembang. Jika sentimen primordialisme dan berbau SARA masih tinggi, saya yakini bahwa SBY dan Demokrat akan mengambil sikap ditengah sebagai pemimpin rakyat bukan sebagai pihak yang hanya bernafsu untuk berkuasa dengan mengorbankan kepentingan bangsa dan negara.

Pemimpin rakyat tidak harus berkuasa, tapi pemimpin rakyat dekat dengan rakyat dan berdiri bersama rakyat.***

*Penulis adalah aktivis Rumah Amanah Rakyat

LEAVE A REPLY