Masyarakat Indonesia Gelar Aksi Solidaritas Muslim Rohingnya di Bundaran HI

0
68
JAKARTA, TERKINI.CO – Peringatan hari Pembantaian dan
Tragedi Muslim Rohingnya yang setiap tahunnya dilakukan pada tanggal 10
Juni, di Jakarta hari ini (Rabu, 10 Juni 2015) akan berlangsung di
Bundaran Hotel Indonesia.
Aksi ini diselenggarakan oleh masyarakat dan mahasiswa yang tergabung
dalam Aliansi Masyarakat dan Mahasiswa Peduli Rohingnya (AMMPERA).

Dalam rilisnya, AMMPERA mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama-sama
bergabung mengungkapkan perasaan dan kepedulian terhadap penderitaan
dan kedzaliman yang menimpa muslimin Rohingnya.

Aksi ini sekaligus sebagai momentum peringatan atas tragedi pembantaian
besar-besaran terhadap Muslim Rohingnya di Arakan Myanmar yang terjadi
pada 10 Juni 2012, pembakaran sedikitnya 40 kampung muslim di Arakan,
serta warganya dibantai dan diusir.


Menurut Direktur Arakan News Agency, Shalah Abdul Shakur kepada
Islamicgeo.com, aksi ini secara serempak akan berlangsung di berbagai
belahan penjuru dunia, Malaysia, Mesir bahkan Suriah.

Menurut kordinator aksi, Saifurrijal, aksi akan dimulai pada pukul 13:30
dengan menggunakan desscode bebas di Bundaran Hotel Indonesia, Rabu
(10/6/2015).

Akan hadir sejumlah tokoh yang akan menjadi orator dalam aksi ini,
seperti Heru Susetyo dari PAHAM (Pusat Advokasi Hak Asasi Manusia),
Fahmi Salim mewakili MIUMI (Majelis Intelektual Muslim Indonesia),
Shalah Nur dari GRC (Global Rohinya Centre), Ahmad Hidayat dari FSLDK
JADEBEK (Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Jakarta Depok Bekasi),
Ibrohim dari KOMA (Komunitas Ma’tsurat, Adi mewakili Garuda Keadilan dan
Agas dari YI LEAD(Young Islamic Leaders).

Sebagai informasi Ribuan Muslim Rohingnya dibantai, dibunuh, diusir, dan
kini mereka terombang ambing di lautan. 12.000 pengungsi Rohingnya kini
mencari perlindungan di Indonesia. Kabar terakhir, sekitar 600an
pengungsi kembali tiba diperairan Aceh setelah terombang ambing di
lautan selama 2 bulan lamanya. Mereka lapar, kehausan, banyak juga yang
kehilangan tempat tinggal dan sanak saudara.

Mereka pergi mengungsi setelah di kampung halaman mereka, di Myanmar
mereka diburu, dibunuh, dibantai dan rumah-rumah mereka dibakar.
Ironisnya, pemerintah Myanmar sendiri malah diam berpangku tangan tak
peduli nasib rakyatnya. Bahkan negara-negara di ASEAN enggan menampung
dan membantu mereka. Sungguh Ironi, ketika di lain sisi negara-negara
dunia menolak penindasan, di sisi lain mereka diam akan tragedi
kemanusiaan di depan mata mereka.[Anas]

LEAVE A REPLY