Mario Viegas Carrascalao, simbol rekonsiliasi Timor Leste kini telah tiada

0
137

Mario Viegas Carrascalao, lahir di Baucau, 12 Mei 1937, ia tercatat sebagai sarjana kesepuluh selama masa 400 tahun Timor Portugis. Menjadi tokoh sentral -sepuluh tahun menjabat Gubernur Timor Timur- di masa ‘integrasi’. Lalu menjadi anggota Parlemen dan Wakil Perdana Menteri ketika Timor Leste menjadi negara merdeka dan berdaulat.

Pendiri Serikat Demokratik Timor atau UDT (bersama saudaranya, Manuel dan Joao Carrascalaorio) ini sedang bertugas di kantor Perwakilan Tetap Indonesia untuk PBB di New York, ketika dipanggil oleh Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) Mayor Jenderal Leonardus Benjamin (Benny) Moerdani yang sedang berkunjung ke Washington, DC pada bulan April 1982. Benny memintanya untuk mau dijadikan Gubernur Timor Timur.

Mario meminta waktu untuk berdiskusi dengan istri, Maria Helena Stoffel Cidrack. Ternyata sang istri berpendapat, “kamu tak punya musuh. Tapi, kalau kamu mau melakukan tugas ini, kamu akan punya musuh.”

Pendapat itu lalu dijawabnya, “kalau halangannya itu saja, saya terima.”

Selama menjadi gubernur, ia dua kali bertemu dengan pemimpin Falintil, Jose Alexandre Gusmao alias Xanana Gusmao. Pada pertemuan pertama, sekitar Maret 1983, ia ditemani Kolonel Poerwanto. Mereka bertemu di Larigutu, Viqueque.

Mario mengisahkan pertemuannya itu. Ia mengaku kaget. “Ada sekitar 25 anggota Fretilin (satu pleton) dan wow, mereka memberi saya penghormatan militer. Saya tak menyangka,” tuturnya.

Insinyur Kehutanan itu bertanya pada sang pemimpin gerilya. “Suatu saat senjata akan habis, peluru habis, Anda mau apa?”

Xanana menjawab, “Mario Carrascalao, Anda harus tahu, saya memang tidak punya pabrik senjata atau peluru. Tapi pusat senjata dan peluru saya itu di Surabaya atau Jakarta. Sekarang ini justru sulit karena kita ada kontak damai.”

Di akhir pertemuan itu, ayah dari dua bersaudara, Pedro dan Sonia itu mengeluarkan rosario dan memberikannya pada Xanana. “Ini. Sebagai orang Timor, janganlah lupakan agama kita.”

Pertemuan kedua, sekitar April 1983, berlangsung di Ariana. Xanana berbicara terus terang bahwa dia perlu tiga bulan untuk mengatur kembali perlawanannya. Ketika Mario membujuk agar bekerja sama membangun Timor Timur, dia tidak mau. “Anda sebagai gubernur bertugas mengurus rakyat. Anda laksanakan tugas itu. Dan ini tugas saya.”

Dua dasawarsa kemudian, kerjasama Xanana dan Mario, itu akhirnya benar-benar terwujud, di bawah kibaran bendera Timor Lorosae. Negara yang mereka -dan sederetan nama besar lain- perjuangkan dengan cara masing-masing. Pasca Jajak Pendapat, Xanana Gusmao mengangkatnya sebagai Wakil Presiden CNRT (Dewan Perlawanan Rakyat Timor Timur). Ia menjadi simbol rekonsiliasi.

Tahun 2010, putera dari seorang ayah Portugis dan ibu asli Timor Leste ini, mundur dari jabatannya sebagai Wakil Perdana Menteri. Ia mengaku sudah tua, sudah waktunya beristirahat.

Hari ini, tepat seminggu setelah ulangtahunnya yang ke-80, kabar duka itu datang. Mario meninggal dunia karena serangan jantung. Mobil yang dikendarainya menabrak tembok pelabuhan Kota Dili.

Penandatangan ‘Deklarasi Balibo’ itu wafat di saat pemerintah Timor Leste sedang sibuk dengan dua even penting, hari Restorasi Kemerdekaan dan pelantikan Presiden Fransisco Guteres (Lu Olo) pada Sabtu 20 Mei 2017 besok.

Selamat jalan Mario Viegas Carrascalao, beristirahatlah dalam damai. Tetaplah bagi rakyatmu, “hanya ada satu Mario untuk tiga Timor.”

#RIPMarioViegasCarrascalao

*) Kisah dari berbagai sumber, foto dari kisahtimortimur.wordpress.com dan wikipedia (Khairul Fahmi)

LEAVE A REPLY