Ketuhanan Soekarno

2
336

Oleh : Yudi Latif*

Saudaraku, cara mendekati Tuhan dengan mencoba masuk dari berbagai jalan tetapi berujung menemukan jalurnya yang pas menuju Tuhan diperlihatkan oleh Soekarno. Ia berangkat dari latar belakang kompleksitas keyakinan. Menurut pengakuannya sendiri, “Kakekku menanamkan pada diriku kebudayaan Jawa dan mistik. Dari Bapak datang teosofi dan Islamisme. Dari Ibu, Hinduisme dan Buddhisme” (Adams, 2011: 90).

Pengenalannya lebih lanjut dengan Islam ia temukan saat tinggal di rumah Tjokroaminoto, sewaktu sekolah di HBS Surabaya. Bung Karno menuturkan: “Aku juga seorang yang takut kepada Tuhan dan cinta kepada Tuhan, sifat yang melekat padaku sejak lahir. Aku tak pernah mendapat didikan agama yang teratur karena Bapak tidak mendalaminya. Aku menemukan sendiri agama Islam pada usia 15 tahun, ketika aku mengikuti keluarga Pak Tjokro masuk satu organisasi agama dan sosial bernama Muhammadiyah. Gedung pertemuannya terletak di seberang rumah kami di Gang Peneleh. Sekali sebulan, dari pukul delapan sampai tengah malam, seratus orang berdesak-desakan mendengarkan pelajaran agama dan ini disusul dengan tanya-jawab” (Adams, 2011: 134).

Pada pertengahan 1920-an, saat kuliah di Bandung, berbagai kesulitan dan tantangan hidup membuatnya makin mendekat pada Tuhan. Seperti dalam pengakuannya: “Aku banyak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam. Bahkan selagi aku melangkah ragu pada awal jalan yang menuju kepada ketuhanan, aku tidak melihat Yang Maha Kuasa sebagai Tuhan seseorang. Menurut jalan pikiranku, kemerdekaan bagi kemanusiaan meliputi juga kemerdekaan beragama” (Adams, 2011: 88).

Pelbagai cobaan hidup yang menimpa dirinya, mulai dari persoalan keluarga dan tantangan perjuangan yang dipikulnya setelah penangkapan Pak Tjokro pada 1921, membuat Bung Karno lebih sensitif terhadap ketuhanan. Dalam ungkapan Im Yang Tjoe (2008), “Jiwa manusia menjadi matang dalam air mata. Betul, karena dengan peristiwa itu, jiwanya Soekarno telah menjadi semakin matang dalam kedukaan. Ia sekarang banyak memperhatikan hal-hal kerohanian. Rupanya kedukaan telah membuka pikirannya buat mencari ketenangan dari Tuhan.”

Suasana kejiwaan seperti itu bertautan dengan perjumpannya dengan berbagai tokoh lintas agama. Ketika H. Agoes Salim datang ke Bandung, Bung Karno mengunjunginya. Bermula dari diskusi mengenai pergerakan nasional, ujungnya mengerucut pada soal agama dan Allah, yang menjadi bidang keahlian Salim. Suatu momen kebetulan bagi Bung Karno yang jiwanya sedang haus akan siraman rohani. Setelah uraian dan pertukaran pikiran mengenai segi-segi ketuhanan hingga larut malam, apa yang menjadi pemahaman Salim tidak selalu cocok dengan jalan pikiran Bung Karno. “Saya belum tahu betul tentang Allah, tapi saya merasa pasti bahwa Allah yang tuan ‘gambarkan’ itu tidak cocok dengan pendapat saya,” ujar Bung Karno sambil berpamitan pulang. H. Agoes Salim pun tersenyum dan geleng-geleng kepala sendirian, seraya berkata, “Ah, anak muda kepala batu, tapi saya doakan mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala akan menerangi pikirannya.”

Di lain waktu, ia bertemu dengan Pastor Frans van Lith. Dengan pemimpin umat Katolik ini pun Soekarno berdebat, karena sekali lagi Tuhan yang digambarkan Sang Pastor tidak cocok dengan jalan pikirannya. Bung Karno sangsi, “Katanya Tuhan itu kebesarannya tidak terbatas, tapi kenapa oleh Van Lith dibataskan kepada apa yang baik saja, sedang yang buruk bukan dari Tuhan datangnya? Ini tidak cocok.” Dengan mendongkol, namun tetap dalam ekspresi cintanya, Pastor itu pun berseloroh, “Kau ini orang durhaka, berani menjelekkan Tuhan.” Bung Karno dengan tangkas menukas, “Tuhan akan mengampuni saya.”

Dalam pencarian berikutnya, Soekarno sering mengunjungi kampung-kampung dan gang-gang kumuh untuk mencari Tuhan seperti yang dilukiskan oleh Tolstoy, bahwa Tuhan berada di tempat-tempat yang penuh debu. Tentang hal ini Bung Karno punya ungkapan yang menyentuh, “Orang tidak dapat mengabdi pada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.” Meski begitu, dahaganya akan Tuhan belum juga terpuaskan.

Pencarian mengantarkannya pada buku-buku Hinduisme dan Budhisme. Kunjungan Rabindranath Tagore ke Jawa dan Bali pada 1927, membangkitkan endapan religiusitas bawah sadarnya yang telah lama tertutup usia. Soekarno terhenyak sesaat, namun kembali sadar sebagai anak muda yang tak pernah cepat puas. Ia pun berseru, “Juga bukan, bukan begitu adanya Tuhan, meski sudah mendekati reinkarnasi! Itu titis-menitisnya manusia dari satu badan ke lain badan, dari satu penghidupan ke lain penghidupan, yah, boleh jadi. Tapi di sini masih ada satu pertanyaan: ‘kalau manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan dosanya, pertanyaannya adalah apakah manusia mempunyai DIRI-nya sendiri?’ Ah, tidak, tidak. Ini belum memuaskan.”

Soekarno pun menjadi lelah, tak kunjung menemukan yang dicari. Ia lupa kata-kata Goethe, “Siapa yang masih berdaya, tandanya ia masih kesasar.” Dalam kepasrahannya, sekonyong-konyong “DIA” hadir. Tuhan datang sendiri, saat terlintas di kepalanya: “Siapakah yang mengatur itu perjodohan antara ayahnya dari Jawa dan ibunya dari Bali? Kalau ayahnya tidak dikirim sebagai guru ke Bali, niscaya tidak terjadi perjodohan itu. Siapa yang mengirim ayahnya ke sana? Pemerintahan kolonial Belanda. Benar. Yang mengirim ayahnya Pemerintahan Kolonial Belanda, tapi apakah pemerintah mempunyai maksud supaya ayahnya bertemu dengan sang Ibu? Tidak, sama sekali tidak. Nah, di sini lantas ketemu, bahwa adalah DIA yang mengatur”. Sekalipun pencarian spiritualnya masih jauh dari kata akhir, setidaknya sekarang Bung Karno merasa lebih tenang karena sudah menemukan keyakinan akan adanya DIA yang menjadikan segalanya (Im Yang Tjoe, 2008).

Proses Soekarno menemukan keyakinan ketuhanan dan keagamaannya itu menemukan momen pematangannya saat ia dipenjara dan diasingkan. Pada 1930, sebagai Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dijebloskan ke Penjara Banceuy (Bandung), karena tuduhan subversif (rencana pemberotankan bersenjata). Dari Penjara Banceuy, Soekarno dipindahkan ke Penjara Sukamiskin dengan masa hukuman 4 tahun. Berkat bacaan keagamaan dan renungan spiritual yang mendalam selama di penjara, barulah menurutnya “Aku menemukan Islam dengan sungguh-sungguh dan benar. Di dalam penjaralah aku menjadi penganut Islam yang sebenarnya” (Adams, 2011: 135).

Pada 1934, Soekarno diasingkan ke Ende, daerah terpencil di Pulau Flores, yang memberinya banyak waktu untuk merenung dan mematangkan konsepsi ketuhanan dalam kaitannya dengan nilai-nilai dasar kebangsaan secara lebih mendalam. Soekarno mengisahkan: “Di Ende yang terpencil dan membosankan itu aku memiliki banyak waktu untuk berpikir. Di depan rumahku tumbuh sebatang pohon kluwih. Berjam-jam lamanya aku duduk bersandar pada pohon itu, memanjatkan harapan dan keinginan. Di bawah dahan-dahannya aku berdoa dan berpikir, mengenai suatu hari…suatu hari….Itu adalah perasaan yang sama yang menguasai MacArthur di kemudian hari. Dengan setiap sel syaraf berdenyut dalam seluruh tubuhku, aku merasakan bahwa bagaimana pun juga—di mana saja—kapan saja—aku akan kembali. Hanya semangat patriotisme yang menyala-nyala itu yang masih berkobar di dalam dadaku, yang membuat aku terus hidup” (Adams, 2011: 162-163).

Suasana keterasingan menciptakan kesadaran religiusitas. Kesadaran ini mendorongnya lebih banyak belajar agama yang rasa penasarannya sedikit terobati. Di sana dia bertemu dengan pastor-pastor Katolik yang bersimpati dengan perjuangannya, yang memberinya ruang pertukaran pikiran dan wawasan keagamaan yang lebih lapang.

Selain itu, berkat pasokan buku-buku agama dan surat-menyuratnya dengan tokoh-tokoh keagamaan, terutama Ahmad Hassan, pemimpin Persatuan Islam (Persis), memberinya kesempatan mendalami pengetahuan agama secara lebih serius. Kesadaran religiusitas ini lantas memberikan dimensi tambahan terhadap Marhaenisme, selain asas “sosio-nasionalisme” dan “sosio-demokrasi”. Pada titik ini, kandungan Pancasila telah menemukan bentuk awalnya. Dalam Pengakuan Soekarno dikatakannya: “Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila (Adams, 2011: 240).

Bekal keagamaan yang dipelajarinya di Ende memperoleh ruang penguatan dan pengamalan saat dibuang ke Bengkulu pada 1938. Di sini beliau memperoleh pengalaman praktis sebagai penggiat dan guru Muhammadiyah.

Dalam perkembangan selanjutnya, Bung Karno tumbuh sebagai pemimpin politik dengan penghayatan religiositas yang dalam. Hal ini tercemin dari uraiannya tentang Pancasila dan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pada pidato 1 Juni 1945, Bung Karno antara lain mengatakan: “Tapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya menyembah Tuhan dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama.” Dan hendaknya negara Indonesia suatu Negara yang ber-Tuhan. Marilah kita amalkan, jalankan agama… dengan cara berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat menghormati satu sama lain.”

Tentang hari Proklamasi, meskipun para pemuda terus mendesaknya untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno tetap tak mau mengabulkan permintaan mereka. Alasan utamanya karena Kemerdekaan Indonesia itu bukanlah untuk satu-dua hari, tetapi diharapkan bisa terus bertahan. Oleh karena itu, ia ingin memilih “hari yang baik”. Selengkapnya ia terangkan: “Aku percaya pada mistik. Aku tidak dapat menerangkan yang masuk akal mengapa tanggal 17 memberikan harapan kepadaku. Tetapi aku merasakan di dalam relung hatiku….Tujuh belas adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang berada di bulan suci Ramadhan….Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang manis. Jumat suci. Dan hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia. Ketika aku pertama kali mendengar berita penyerahan Jepang, aku berpikir kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan. Kemudian aku menyadari, adalah takdir Tuhan bahwa peristiwa ini akan jatuh di hari keramat-Nya. Proklamasi akan berlangsung tanggal 17. Revolusi akan mengikuti setelah itu” (Adams, 2011: 253).

Demikianlah, lewat jalan berliku Soekarno akhirnya bisa menemukan Tuhan. Suatu kesadaran ketuhanan yang berkebudayaan, yang lapang dan toleran.*** Baca pula tulisan seri sebelumnya Ketuhanan Hatta

*Penulis adalah Cendikiawan yang juga Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), Direktur Eksekutif Reform Institute dan aktif sebagai dosen tamu di sejumlah Pendidikan Tinggi

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY