Ketuhanan I.J. Kasimo

0
183

Oleh : Yudi Latif*

Saudaraku, orang beriman itu mestinya “percaya” (berasal dari kata “bercahaya”). Cahaya murni keimanananya bisa menerangi segala ruang dengan memantulkan bias sinar yang sesuai dengan warna bejana. Bila warna bejananya merah, ia akan tampak merah. Bila warna bejananya hijau, ia tampak hijau. Bila warna bejananya kuning, ia tampak kuning.

Kualitas keimanan seperti itu terpancar dari sosok Ignatius Joseph Kasimo. Dengan cahaya imannya, dia bisa menampakkan diri sebagai Jawa yang baik, Katolik yang baik, dan Indonesia yang baik.

Terlahir di Yogyakarta, 10 April 1900, dengan nama asal Kasimo Hendrowahyono, ia adalah anak dari pasangan suami-istri Rososentiko dan Dalikem. Ayahnya adalah seorang prajurit Keraton Yogyakarta. Sedang ibunya mengasuh anak sambil berjualan di pasar.

*Penulis adalah Cendikiawan yang juga Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), Direktur Eksekutif Reform Institute dan aktif sebagai dosen tamu di sejumlah Pendidikan Tinggi
Setelah lulus dari Sekolah Bumi Putra Kelas Dua (Ongko Loro), di Kampung Gading, Kasimo masuk sekolah guru (Kweekschool) di Muntilan yang didirikan oleh Romo van Lith. Seorang pastor humanis asal Belanda dengan empati besar bagi nasib kaum tertindas,  dengan reputasi sebagai pendidik yang telah melahirkan sejumlah nama-nama besar di panggung sejarah Indonesia. Selain Kasimo sendiri, bisa disebut antara lain Soegijapranata, N. Drijarkara, dan Frans Seda.

Di sini,  Kasimo tinggal di asrama yang membuatnya tertarik belajar agama Katolik. Bertepatan hari raya Paskah April 1913, pada usia 13 tahun, ia pun dibaptis secara Katolik dengan nama baptis Ignatius Joseph. Setelah lulus dari Muntilan, ia melanjutkan studi ke Middelbare Landbouwschool (Sekolah menengah Pertanian) di Bogor. Lantas menjadi guru pertanian sekaligus mengajarkan agama di Tegal dan Surakarta.

Aktivitas pergerakannya dimulai  dengan menjadi anggota Jong Java. Pada usia 23 tahun, Kasimo mulai menggagas jalan perjuangannya sendiri dengan berani melawan arus. Dengan jiwa patriotisme yang terpancar dari cahaya imannya, dia mengajak teman-temannya terutama sesama alumni Muntilan untuk menempuh trayek perjuangan politik di luar kerangka Indische Katholieke Partij; perkumpulan politik Katolik yang telah ada dengan kepemimpinan orang-orang Eropa yang lebih simpati pada pemerintahan kolonial.

Di bawah kepemimpinannya, pada 1924 berdirilah Perkoempoelan Politiek Katholiek Djawi, yang pada 1930 berubah menjadi Perkoempoelan Politik Katolik Indonesia (PPKI), yang pada 1949 bentransformasi menjadi Partai Katolik dimana Kasimo menjadi ketua umumnya.

Sebagai anggota PPKI, Kasimo diangkat menjadi anggota Volksraad antara tahun 1931 – 1942. Di parlemen Hindia Belanda ini, ia berseru, “Tuan Ketua! Dengan ini saya menyatakan bahwa suku bangsa-suku bangsa Indonesia yang berada di bawah kekuasaan negeri Belanda, menurut kodratnya mempunyai hak serta kewajiban untuk membina eksistensinya sendiri sebagai bangsa.” Kasimo bersama dengan Sam Ratulangie, Datoek Toemenggoeng, Alatas, dan Ko Kwat Tiong turut menandatangani apa yang dinamakan Petisi Soetardjo dalam sidang Volksraad pada Juli 1936, yang menuntut pemerintahan sendiri (otonomi).

Setelah merdeka, ia memainkan peran penting dalam perjuangan kedaulatan Indonesia, sebagai pemimpin politik Katolik yang lebih bisa masuk ke lingkungan Eropa. Ia pernah menduduki jabatan Menteri Muda Kemakmuran, Menteri Persediaan Makanan Rakyat, Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian. Ia juga ikut menjadi anggota Delegasi Perundingan Republik Indonesia dengan Belanda, dan sederet peran penting lainnya.

Dalam rentang panjang sepak terjangnya sebagai manusia dan pejuang, kemoderenan tak membuat dirinya tercerabut dari akar kejawaan. Dengan latar keluarga abdi dalem, Kasimo merupakan seseorang yang terdidik dalam kultur Jawa yang kuat. Bahkan setelah mengikuti pendidikan modern dan menjadi tokoh nasional, ia tetap menampilkan diri sebagai seorang yang “njawani”; terlihat dari kebiasaannya mengenakan pakaian Jawa lengkap dengan blankonnya.

Saat yang sama, sebagai  pemimpin nasional, ia bisa membawakan diri dalam tuntutan mentalitas kewargaan. Ia tak terbelenggu “Jawa minded”. Terlihat dari penggunaan bahasa Indonesianya yang fasih tanpa campuran Jawa. Juga dalam keluasan visi transformatif yang bersifat nation-wide, seperti tercermin dalam Rencana Kasimo,  yang  mengikhtiarkan perbaikan taraf hidup rakyat lewat peningkatan produksi pangan.

Dalam kesadaran politiknya, ia mengumandangkan perlunya orang Katolik menjadi bagian dari arus sungai yang mengalir menuju samudera kebangsaan Indonesia. Melalui gereja berbakti bagi persada Indonesia (pro ecclesia et patria). Inilah prinsip mono-dualitas yang memandang cahaya keimanan bisa terpancar di  tempat yang berbeda. Seperti dualitas cahaya, yang pada hakekatnya partikel sekaligus juga gelombang. Orang-orang Katolik bisa menjadi 100 persen Katolik, sekaligus 100 persen Bangsa Indonesia.

Kasimo terpandang sebagai negarawan yang senantiasa berpegang teguh pada beginsel (prinsip). Jakob Oetama melukiskannya sebagai salah seorang tokoh yang menjunjung tinggi moto salus populi supremalex, yang berarti bahwa kepentingan rakyat, merupakan hukum tertinggi.

Sebagai manusia berprinsip yang mengutamakan kepentingan umum, tak heran bila Mohammad Natsir dari Partai (Islam) Masjumi dalam usahanya menggagas “Mosi Integral Natsir”, dalam rangka kembali ke Negara Kesatuan Relublik Indonesia, merasa perlu berdiskusi dan mendapatkan dukungan Kasimo di Parlemen.

Dengan mengutamakan kepentingan rakyat, Kasimo menjalani hidup dengan segala kesederhanaan dan tanpa pamrih.
Harry Tjan Silalahi bersaksi, selama puluhan tahun, Kasimo menyuguhi tamu dengan cangkir yang sama. Kesederhanaan hidupnya membuat ia tahan terhadap godaan harta, tahta dan wanita. Ia selalu bisa menarik batas antara milik pribadi dan milik negara. Kalaupun ada pamrih pribadi, tak lain seperti yang sering ia utarakan, “agar malam hari dapat tidur nyenyak.”

Saat yang sama, ia memiliki kekayaan batin luar biasa. Selain memperkaya jiwanya dengan disiplin khidmat berdo’a dan ibadah, juga membuka diri penuh cinta untuk yang lain dengan kerelaan menolong sesama, tanpa membedakan asal-usul manusia. Segala pertolangannya sedemikian tulus sehingga ia tak pernah menceritakannya pada orang lain.

Kasimo sangat teguh dalam pendirian, namun luwes dalam pergaulan. Dengan kebersahajaan dan kejujurannya, ia mengembangkan pergaulan yang luas melintasi batas-batas agama dan suku. Ia menjalin persabatan yang hangat dengan tokoh-tokoh Islam seperti Mohammad Natsir, Prawoto Mangkoesasmita, Sjafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem dan Wahid Hasjim. Mereka biasa berkumpul merayakan lebaran pada 1 Syawal di rumah tokoh Islam (seringkali di rumah Mohammad Roem dan merayakan tahun baru pada 1 Januari di rumah Kasimo sendiri.

Perbedaan pandangan dan perdebatan sengit dalam ruang-ruang persidangan tak merusak hubungan persahabatan. Hal ini tergambar dari fragmen peristiwa berikut.

Syahdan, sampai menjelang akhir dekade 1950-an, Prawoto Mangkusasmito belum juga punya rumah. Tokoh Partai Masyumi dan Muhammadiyah yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri (2 April 1952-31 Juli 1953) dan menjadi Wakil Ketua I Konstituante (10 November 1956-5 Juli 1959) itu memang dikenal sebagai pribadi yang juga sederhana. Di tengah suasana perbedaan pandangan politik yang tajam menyangkut Dasar Negara di Konstituante, Kasimo (Ketua Partai Katolik) tidak kehilangan rasa belas kasihnya. Mengetahui bahwa Pak Prawoto hendak membeli rumah yang sudah lebih dari enam tahun disewanya (sejak 1952), Pak Kasimo merasa tergerak hatinya untuk memberikan bantuan. Kebetulan pemilik rumah itu adalah seorang zuster Katolik keturunan Tionghoa, Tan Kin Liang. Ia pun membantu Pak Prawoto mempersuasi pemilik rumah itu yang tinggal di Maastrich, Belanda, hingga akhirnya rumah di Jalan Kertosono (Jakarta)  itu pun bisa dibeli Pak Prawoto pada 20 Maret 1959 (Hakiem, 2014: 35-36). Bahkan, menurut sumber lain, Pak Kasimo pun ikut mengumpulkan dana untuk membantu pembelian rumah tersebut.

Kisah persaudaraan dengan kerelaan gotong-royong yang melibatkan dua tokoh dengan corak keagamaan dan politik yang berbeda itu secara gamblang menggambarkan semangat ketuhanan yang berperikemanusiaan. Semangat ketuhanan yang penuh kasih sayang, lapang dan toleran, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Demikianlah, sinar murni keimanan laksana sinar mentari yang bisa menyinari segala relung jiwa, memberikan energi hidup bagi siapa pun tanpa kecuali.

LEAVE A REPLY