Kawasan konservasi berbasis Islam kembali dibahas di Malta

0
63
Fachruddin Mangunjaya.

MALTA, TERKINI.COM –Sejumlah akademisi dan penggiat lingkungan dari berbagai negara mengadakan pertemuan di Malta, sebuah negara kepulauan di Eropa Selatan. Mereka membahas kawasan konservasi di seluruh dunia terutama di negeri berpenduduk muslim.

Pertemuan tersebut dikemas dalam acara workhop bertajuk: “Fourth Workshop of IUCN/WCPA Specialist Group on Cultural and Spiritual Values of Protected Areas”, yang diadakan di Franciscan Retreat House of Porziuncola, Malta.

Fachruddin Mangunjaya, Ketua Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional yang saat ini tengah menghadiri  tersebut mengatakan, kawasan konservasi telah banyak dan berdiri dan ditetapkan di seluruh dunia, diantaranya termasuk kawasan seperti taman nasional, suaka marga satwa, hutan lindung dan taman hutan raya di Indonesia.

“Sayangnya kawasan konservasi ini tidak sepenuhnya berjalan efektif, terlindungi dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Banyak kawasan konservasi hanya ada di atas kertas. Implementasi di lapangan ketika di cek lahan tersebut sudah dirambah, dibangun, dijadikan kebun,”ungkapnya (25/04/2017).

Acara Workhop bertajuk: “Fourth Workshop of IUCN/WCPA Specialist Group on Cultural and Spiritual Values of Protected Areas” terselenggara atas kerjasama World Comission on Protected Area (WCPA), Organisasi Konservasi Dunia IUCN dan University of Malta. IUCN, sebuah organisasi konservasi dunia yang mewadahi urusan konservasi membuat enam kategori kontribusi kawasasan konservasi salah satu diantaranya mengakui keberadaan praktik perlindungan kawasan alami (natural protection) karena di sakralkan oleh agama.

Acara tersebut dihadiri oleh Louis Cassar, dari Institute of Earth Science, University of Malta, Uskup Charles Scicluna, Imam Islamic Centre Muhammad Isa El Sadi termasuk dari perwakilan Indonesia Dr Fachruddin Mangunjaya, Ketua Pusat Pengajian Islam yang mengikuti workshop tersebut selama tiga hari, dari tanggal 24-28 April 2017.

Fachruddin Mangunjaya mewakili Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional mengaku diundang sebagai salah satu pemateri workshop yang mengadopsi konsep kawasan sakral (keramat) atau disucikan oleh masyarakat Muslim.

“Kawasan kawasan keramat, sakral dan disucikan, dapat diakui menambah luasan kawasan konservasi, Demikian juga praktek-praktek pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan seperti halnya lubuk larangan di Indonesia,” kata dosen yang aktif menulis buku dan essai seputar konseversi dan Islam ini.

Pada kesempatan tersebut, Fachruddin membagi pengalaman Indonesia yang terkait dengan khasanah kearifan perlindungan kawasan konservasi yang dijalankan oleh Muslim di Sumatra, seperti hutan adat, hutan larangan, hutan nagari dan lubuk larangan. (TC)

LEAVE A REPLY