Intip Konservasi Laut Berbasis Masyarakat di Kepulauan Seribu

0
58

JAKARTA, TERKINI.CO- Sinyal
positif menjadi bagian dari upaya konservasi berbasis masyarakat.
Selain memastikan upaya perlindungan berbagai keanekaragaman hayati
lebih efektif, hal itu juga terbukti mampu meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat.

Di Taman Nasional
Laut Kepulauan Seribu (TNLKpS), Jakarta, misalnya. Masyarakat diarahkan
untuk mengembangkan berbagai kegiatan ekowisata seperti adopsi karang di
bawah bimbingan Balai TNLKpS, unit pelaksana teknis di bawah
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dampaknya masyarakat
memiliki alternatif mata pencaharian yang ramah lingkungan dan kesehatan
terumbu karang bisa terjaga.

Harmoni kehidupan
tersebut terpantau di sela Pelatihan Identifikasi Kesehatan Terumbu
Karang yang diselenggarakan Ecodiver Journalist, 23-34 Mei 2015.
Mahmudin (50 tahun), salah satu tokoh masyarakat di Pulau Pramuka,
menuturkan kegiatan adopsi karang bermula pada awal tahun 2000-an.

Saat
itu salah satu mata pencaharian masyarakat adalah mengambil terumbu
karang di alam dan menjualnya kepada pengepul sebagai pelengkap
akuarium.

“Petugas memang selalu melarang, tapi
mengambil terumbu karang adalah sumber pendapatan kami saat itu,” kata
May, panggilan akrab Mahmudin.

Balai TNLKpS
kemudian mencoba pendekatan baru. Masyarakat dilatih untuk melakukan
penangkaran karang. Mereka diperbolehkan memperdagangkan karang hasil
penangkaran dengan syarat merupakan keturunan kedua. Sementara
indukannya dikembalikan ke lautan. “Sejak itu, kami berhenti mengambil
karang,” kata May yang bersama rekan-rekannya kini mengelola kelompok
Pondok Karang.

Belakangan, pola penangkaran
karang hias itu juga menarik minat wisatawan untuk terlibat. Bedanya,
terumbu karang hasil penangkaran yang dilakukan wisatawan tidak dijual,
tapi sepenuhnya dikembalikan ke lautan. Pola ini, kata May, mendongkrak
pendapatan masyarakat. Dampaknya sekarang, masyarakat kini lebih banyak
melakukan penangkaran untuk dikembalikan ke alam ketimbang untuk tujuan
perdagangan.

Kesadaran masyarakat untuk
melestarikan terumbu karang pun makin menguat. Kini masyarakat
menjalankan inisiatif perlindungan terumbu karang dengan mengelola Areal
Perlindungan Laut (APL) seluas 16,5 hektare di sebelah Utara Pulau
Pramuka. 
Areal tersebut ditutup dari berbagai
aktivitas seperti pemancingan ikan, maupun kegiatan wisata seperti
snorkeling dan menyelam. Masyarakat juga memperkaya terumbu karang yang
ada dengan berbaga jenis karang dari seluruh Indonesia. “Saat ini sudah
ada 400 jenis karang,” kata May.
Inisiatif yang
dilaksanakan sejak 2013 itu menunjukan gejala keberhasilan. Kemunculan
jenis ikan yang sebelumnya sulit ditemui adalah bukti yang nyata.
Menurut May, pada awal dikelola, pihaknya melepas sekitar 20 ekor ikan
badut (clownfish) dari berbagai jenis di APL. Ikan yang terkenal karena
berperan sebagai Nemo, dalam film animasi itu kemudian berkembang biak
hingga sempat mencapai 400 ekor.
Masyarakat
rela berkorban waktu dan biaya dalam mengelola APL. Sejauh ini tak ada
pendapatan yang diperoleh masyarakat dari mengelola areal tersebut.
Namun, mereka berencana untuk mengajukan izin pengelolaan pariwisata
alam (IPPA) kepada Balai TNLKpS, tiga-empat tahun lagi setelah areal
tersebut dinilai telah benar-benar pulih.
“Nanti hanya wisatawan dengan sertifikat tertentu yang sudah pasti tidak merusak karang yang boleh berkunjung ke APL,” ujar May.
Keinginan
May dan rekan-rekannya mendapat dukungan. Kepala Seksi III Balai TNLKpS
Untung Suripto mengungkapkan, APL berada pada zona pemanfaatan
tradisional di TNLKpS yang memungkinkan untuk dikelola oleh masyarakat.
“Areal tersebut bisa menjadi spot wisata premium bagi penyelam atau
peminat snorkeling,” katanya.
Untung
menjelaskan, kegiatan konservasi berbasis masyarakat memang menjadi
agenda utama pengelolaan taman nasional satu-satunya di Ibukota Jakarta
itu. Keberadaan masyarakat dan akses taman nasional yang terbuka di
lautan membuat pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi bukan lagi
pilihan, tapi keharusan.
Pakar
karang The Nature Conservancy (TNC) Rizya Ardiwijaya mengakui dampak
positif sinergi masyarakat di TNLKpS. Rizya bersama sejumlah wartawan
sempat melakukan penyelaman di dua titik, yaitu Sea Garden dan Panggang
Timur. Menurut dia, ekosistem perairannya memang menghadapi banyak
persoalan. “Namun secara umum terumbu karang di sini cukup baik, tak
ditemukan adanya penyakit terutama di spot Panggang Timur,” pungkasnya.
(Sugiharto Budiman/ Eco Diver Journalists)

LEAVE A REPLY