Ini rahasia China menjelma menjadi super power ilmiah baru

0
89
Teleskop China seluas lima ratus meter atau China's Five-hundred-metre Aperture Spherical Telescope (FAST) adalah teleskop radio terbesar di dunia. Butuh waktu hanya 5 tahun untuk menyelesaikannya. Foto : FAST

China alias Tiongkok bernama resmi The People’s Republic of China. Diterjemahkan menjadi Republik Rakyat China. Ini kawasan dengan penduduk terbanyak di dunia. Dan ideologi resmi negara masih komunis. Meski praktiknya kapitalisme bukan main.

Dunia terkejut ketika Lenovo yang di komandani para alumni China Academic of Science (C.A.S) mengambil alih raksasa komputer dari Amerika Serikat, IBM. Jutaan komputer berkualitas tinggi merebut pasar dunia. Dan dengan harga dua kali lebih murah.

Kemudian dunia semakin terkejut ketika China mampu menciptakan processor lebih hebat dari Intel sehingga China mandiri menghasil produk MRI berkelas dunia. Dan itu lahir dari dapur riset China Academic of Science.

Qingdao. Foto : loc-group.com

China juga tidak punya kebun sawit tapi memiliki downstream CPO terluas di dunia. Dari oleo kimia, oleo pangan, dan oleo non food/eleo non edible mencakup ratusan item produk yang dihasilkan oleh ribuan industri hilir CPO. Sawitnya beli dari Indonesia dan Malaysia.

Kita yang punya sawit mereka yang dapatkan nilai tambah luar biasa besarnya. Itu semua berkat kehebatan visi China menjadi negara industri modern dengan dukungan riset. Nilai ekspor produk turunan CPO China lebih besar dari nilai penerimaan devisa kita sebagai penghasil CPO.

China juga memiliki 17 juta mahasiswa, yang mayoritas mengambil bidang sains dan teknik. Hanya sedikit yang mendalami bidang hukum dan nyaris nol bidang sosial. Setiap tahun China menghasilkan tidak kurang dari 325.000 insinyur (catatan: data terbaru 2 juta scientists and engineer per year).

Setiap tahun pula China membelanjakan USD 60 milliar untuk penelitian dan pengembangan. Untuk saat sekarang ini, penekanan dalam laboratorium-laboratorium China diarahkan secara besar-besaran mendukung inovasi kaum wirausahawan menghasilkan produk yang berkualitas dan murah.

Kemajuan China sekarang tidak bisa dipisahkan dari semangat kemandirian dari kaum terpelajar China yang merupakan komunitas elite. Karena mereka yang terdidik S-1 hanya sekian permil dari total populasi China. Namun kesempatan jadi sarjana ini benar-benar dimanfaatkan rakyat china untuk ambil bagian merubah peradaban yang lebih baik bagi bangsanya.

China punya semacam Silicon Valley seperti Qingdao. Yang menakjubkan, kota nelayan ini memiliki Laoshan yang merupakan kawasan indah berhawa sejuk dan ditetapkan sebagai kawasan Industri High Tech. Dikawasan inilah berdiri berbagai Business High tech yang melakukan berbagai inovasi dibidang IT.

Kawasan ini terhubung dengan lebih dari 100 kampus terbaik di China dan beberapa lembaga riset. Dari business IT perangkat lunak saja wilayah ini menghasilkan pendapatan lebih dari USD 40 miliar pertahun (lebih besar dari pendapatan minyak bumi dan gas kita).

Gaji seorang insinyur di Qingdao hanya 1/5 gaji insinyur di USA dan Eropa. Tapi kualitas kerja mereka sama. Namun biaya hidup di Qingdao sangat murah. Makanya mereka mengundang banyak perusahaan asing melakukan investasi inovasi produk dengan memanfaatkan Insinyur dari Qingdao.

Tentu mereka harus bermitra dengan pengusaha lokal china. Disinilah terjadi sinergi hebat antara SDM, pasar dan tekhnologi.

Pertumbuhan cepat China karena terjadinya paradigma baru setelah era Deng yaitu lahirnya new comer entrepreneur dari kalangan kampus. Mereka terpelajar dan sangat mudah menterjemahkan kebijakan pemerintah untuk melompat ke masa depan.

Sebagian besar yang kini jadi 1.000 orang kaya China adalah para sarjana alumni China Acedemic of Science. “Andaikan dulu para sarjana kami lebih memilih jalur aman berkarir sebagai pekerja mungkin sampai kini china tetap akan terbelakang.” Kata pejabat China kepada saya.

Tantangan masa depan hanya dapat dijawab oleh kaum terpelajar dan itu didukung oleh kemauan mereka untuk berwiraswasta menjadi hero bagi keluarga dan bangsanya. Jadi memang budaya suatu bangsa lah yang membuat bangsa itu kuat melewati putaran zaman. Dan budaya China memang mandiri.

Bagaimana dengan kita ? (Terjemahan Iwan Sams dari artikel Torah Kachur, Kolumnis Science CBC News)

 

LEAVE A REPLY