Indonesia memasukkan isu gender dalam implementasi COP’s BRS

0
99
COP 8 2017. Foto : brsmeas.org

JENEWA, TERKINI.COM- Indonesia menjadi co-host dalam Side Event COP’s BRS tentang gender dalam pengelolaan B3 dan limbah B3 yang diselenggarakan oleh Sekretariat Konvensi Basel, Rotterdam dan Stockholm (BRS) bersama Women Engage for a Common Future (WECF), Bali fokus dan International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Konvensi BRS yang berlangsung di Jenewa, Swiss sejak 24 April – 5 Mei 2017. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan negara-negara peserta konferensi, perwakilan asosiasi, pemerhati lingkungan, Lembaga Swadaya Masyarakat dan para pihak lainnya.

Tema COP tahun ini adalah : “A future detoxified: sound management of chemicals and waste” atau “Masa depan tanpa racun: pengelolaan bahan kimia dan limbah yang baik”.

Indonesia memasukkan isu gender dalam implementasi COP’s BRS atau Konvensi BRS mengenai perpindahan lintas batas Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan limbah B3 yaitu Konvensi (BRS).

Hal ini dengan tegas disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tuti Hendrawati Mintarsih pada COP BRS di Jenewa, Swiss tanggal 3 Mei 2017.

Dalam presentasinya, Tuti menyatakan, berbagai penelitian membuktikan dampak pengunaan B3 serta limbah B3 kepada kesehatan perempuan lebih buruk dari dampak ke laki-laki.

Selain itu masih ada ketimpangan gender yang menyebabkan perempuan perlu mengejar ketertinggalannya terhadap akses informasi dan edukasi, kontrol atas proses pengambilan keputusan, penerimaan manfaat serta tingkat partisipasi.

Lebih lanjut, Tuti menyampaikan perlunya keterlibatan semua pihak dalam meningkatkan kepedulian gender.

Untuk itu, diperkenalkan adanya beberapa aktifis perempuan yang sangat peduli dengan kegiatan lingkungan hidup yang mendapat penghargaan internasional dan nasional seperti Yuyun Ismawati, Aisyah Odist dan Rossana Dewi.

Perempuan cenderung memiliki kedekatan terhadap aspek lingkungan hidup, dimana 90% kaum perempuan memiliki aktivitas memelihara rumah yang berpotensi terpapar B3 seperti pemusnah nyamuk, pembersih kimia, atau cat perabotan rumah.

Perempuan juga terkadang terlibat dalam penambangan emas skala kecil, pengumpulan limbah elektronik maupun buruh di berbagai pabrik.

Berbagai upaya telah dilakukan Indonesia antara lain pemulihan lahan terkontaminasi, sosialisasi dampak limbah B3 ke industri dan pemda serta pembangunan fasilitas pemusnah merkuri dan PCB.

Kegiatan intervensi aspek gender pada pengelolaan B3 dan limbah B3 akan dilakukan seperti penyusunan data base dengan data terpilah, pengembangan indikator gender sensitif, dan penyusunan kegiatan prioritas kelompok rentan (perempuan, anak-anak dan lansia).

Selain itu juga akan dilakukan penyediaan informasi dan sosialisasi kepada kaum rentan, serta pemetaan area dan kelompok masyarakat terkena B3.

Apresiasi kepada Indonesia disampaikan oleh Direktur WECF Internasional, Sacha Gabizon. Menurutnya, pengalaman Indonesia menjadi pembelajaran yang baik bagi negara lain dalam melaksanakan implementasi dari Konvensi BRS.

“Kerjasama internasional penting dalam membangun kepedulian gender di suatu negara. WECF sudah berhasil memberikan beberapa upaya pendanaan pengembangan kapasitas terkait gender on chemical and waste,” ujar Sacha Gabizon.

Kerjasama WECF dengan pemerintah Indonesia akan terus berlanjut dengan mempertimbangkan kegiatan bersama lainnya.

Manajer IUCN, Molly Gilligan, juga menyampaikan apresiasinya bahwa Indonesia telah menyadari pentingnya pertimbangan gender dalam implementasi Konvensi Basel. Antara lain sudah memasukan perlunya data terpilah, analisis gender dan rencana aksi gender dalam pengelolaan B3 dan limbah B3.

“Kami mengingatkan bahwa dalam menyampaikan National reports dalam COP BRS, setiap negara perlu menyampaikan data dan informasi terkait dengan setiap program terkait gender on chemical and waste,” kata Molly Gilligan. (TC)

LEAVE A REPLY