Etalase Ideologi

0
460
Penulis Dandhy Dwi Laksono

Oleh : Dandhy Dwi Laksono*

Terkait Irak, Suriah, dan kini Marawi, saya sulit memahami strategi yang dipilih untuk mempromosikan apa yang disebut “Negara Islam” (Islamic State).

Jika kita anggap setiap ideologi dan peradaban sedang bertarung, maka masing-masing punya etalase untuk dipertontonkan sebagai bahan promosi.

Jalan kapitalisme diambil Amerika dan mereka menyebutnya “American Dream”. Itulah etalase kapitalisme. Belum tentu cocok untuk semua orang, tapi setidaknya tak ada orang Amerika yang berbondong-bondong bermigrasi mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain. Yang terjadi justru Amerika membangun pagar di perbatasannya dengan Meksiko untuk membendung imigran. Dan dia menjadi yang terkuat secara militer saat ini.

Dakwah tentang kapitalisme menjadi lebih mudah bagi orang Amerika yang meyakininya.

Etalase ideologi lainnya mewujud dalam bentuk Singapura yang kerap dibanggakan sebagai contoh sukses “kapitalisme negara” di bawah Temasek Holding. Sekali lagi belum tentu cocok untuk semua orang, tapi pilihan itu membawanya menjadi salah satu dari tiga negara terkaya di dunia selain Qatar dan Luxemburg.

Ada lagi jalan komunisme yang diambil Kuba. Ekonominya tak glamor seperti negara lain (salah satunya akibat embargo) tapi sistem jaminan kesehatannya pernah dianggap yang terbaik dan gratis. Ada yang bisa mereka banggakan dan “jual”.

Dulu pernah ada Jerman Timur yang kualitas pendidikannya dikenal baik dan gratis. Karena gratis, potensi setiap orang untuk bersekolah setinggi-tingginya menjadi tergali, meski belakangan terjadi “brain drain” karena banyak yang pindah ke Jerman Barat mencari kebebasan dan gaji lebih tinggi. Salah satu alasan mengapa tembok Berlin mulai dibangun pada 1961.

Ideologi “jalan ketiga” ditunjukkan negara-negara Eropa atau Skandinavia yang mencari kekayaan melalui ekonomi pasar, tapi pandai membaginya melalui pajak tinggi dan program jaminan sosial. Ke sinilah warga korban konflik di Timur Tengah bermigrasi. Bukan ke negara-negara yang dianggap penduduknya lebih banyak yang seagama.

Bukankah dakwah sebuah ideologi akan lebih efektif jika ada satu-dua praktik yang dapat ditunjukkan sebagai rujukan?

Mengapa sebagian warga Malaysia dan Singapura tak tertarik dengan model demokrasi yang diambil Filipina atau Indonesia? Karena kualitas hidup warga kedua negara ini dianggap tak lebih baik.

Ada juga “etalase ideologi” yang ditunjukkan negara kecil seperti Bhutan yang tak ingin terjebak dalam indikator-indikator duniawi seperti Pertumbuhan Ekonomi atau Produksi Nasional Bruto (GDP). Mereka punya indeks sendiri, yaitu Indeks Kebahagiaan Bruto alias Gross National Happiness (GHN).

Salah satu indikator yang digunakan adalah bagaimana warga Bhutan mengisi waktu luang dan apakah warga negaranya cukup tidur. Indeks yang dirilis pemerintah Bhutan 2015 menyatakan kebahagiaan warganya meningkat dibanding survei 2010 karena jam tidur warga bertambah.

Tak ada negara yang menertawakan indikator ini, karena semua soal pilihan dan mereka pun sejatinya berusaha mencapainya melalui perjuangan hak-hak pekerja. Bukankah hak libur atau cuti diperjuangkan karena kita ingin cukup istirahat atau tidur?

Tahun lalu Bhutan baru menaikkan kuota jumlah turisnya menjadi 75.000 orang per tahun. Benar, berbeda dengan negara-negara lain termasuk Indonesia yang ingin mendatangkan turis sebanyak-banyaknya, Bhutan justru menerapkan kuota agar daya tampung dan daya dukung alamnya bisa mengimbangi jumlah wisatawan.

Bahkan komunitas-komunitas adat di Nusantara juga punya “etalase ideologi” nya sendiri. Baduy Dalam atau Sedulur Sikep dengan pilihan gaya hidupnya tidak menjanjikan kekayaan materi, tapi kesejahteraan, ketenangan, dan keharmonisan seperti halnya Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi atau Kerajaan Boti di Pulau Timor.

Tapi kan mereka lemah secara militer? Apakah ideologi atau peradaban bisa bertahan jika tak mampu melindungi dirinya sendiri?

Melindungi dari apa? Kosta Rika yang sepak bolanya sampai ke Piala Dunia saja tak punya tentara. Apakah dia lantas menjadi obyek jajahan secara bergilir di antara negara-negara lain?

Jangan-jangan yang tak punya tentara atau jawara justru lebih punya banyak kawan. Sebab mereka yang tak punya pasukan, cenderung menjaga tata laku karena menyadari hanya itulah mekanisme pertahanan terbaik untuk mencegah agresor.

Dalam Islam yang saya tahu karena faktor keturunan, etalase ideologi yang kerap disebut adalah Madinah. Tapi contoh itu sudah 1.300 tahun silam, dan warga dunia sebagai target dakwah butuh diyakinkan dengan hal-hal yang dekat dengan zamannya sehingga dapat “membuat pilihan” atau setidaknya perbandingan.

Lagipula bukankah Madinah Al Munawarah juga terwujud tanpa perlu perang?

Lantas bagaimana dengan “Islamic State”? Mendirikan negara untuk peperangan itu sendiri? Mengapa tidak memulai dari sebuah gerakan yang membuktikan bahwa ekonomi non-riba jauh lebih mensejahterakan, dan untuk membuktikan itu, tak perlu dimulai dari level negara.

Kerajaan Boti membuktikan doktrinnya bahwa mempidana pencuri bukan solusi mengatasi kriminalitas. Pencuri di Boti justru akan disantuni dalam bentuk barang yang dicuri. Resep ini mereka terapkan dan diyakini berhasil menekan angka kriminalitas. Mereka melakukannya tanpa perlu merasa harus mendirikan negara (nation state) terlebih dahulu.

Inilah etalase sebuah ideologi atau peradaban. Dakwah seperti ini jauh lebih efektif, daripada memaksakan sebuah ide yang mereka sendiri belum tentu sanggup melakukannya, tapi justru memaksakannya lewat jalan kekerasan kepada orang lain.

Negara seperti ini akan bangkrut sejak dari ide. Kalau pun berhasil berdiri, harganya akan sangat mahal.

Lagipula bagaimana kita percaya tujuan membuat negara demi kemaslahatan, jika ia justru dibangun di atas genangan darah? ***

Penulis adalah jurnalis, petualang, pendiri Watchdoc dan Acehkita.com. Lulusan UNPAD ini telah membuat banyak film dokumenter berbagai tema dari sosial, lingkungan hidup, politik, ekonomi hingga budaya. Ia menulis buku diantaranya berjudul “Jurnalis Investigasi” dan “Indonesia For Sale” serta pernah memperoleh penghargaan-penghargaan berkelas dalam taraf nasional dan internasional diantaranya Jurnalis Terbaik Jakarta (2008) untuk liputan investigasi Pembunuhanan Munir dari AJI. Pemenang British Councik Broadcast Competition untuk liputan investigasi lingkungan bertajuk Ranger di Tepian Leuser (2008).

LEAVE A REPLY