DPR Apresiasi Optimisme Menkeu

0
76

Presiden Joko Widodo (kiri) berdiskusi dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (kanan) saat acara Pencanangan Tahun Pembinaan Wajib Pajak 2015 dan Peluncuran Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (29/4).  Foto : Antara Foto/Yudhi Mahatma.
JAKARTA, TERKINI.CO- Komisi XI
DPR mengapresiasi optimisme Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menghadapi
perkembangan ekonomi di kuartal kedua tahun 2015, maupun di tahun mendatang.

 Demikian disampaikan Ketua
Komisi XI DPR Fadel Muhammad di sela-sela rapat kerja antara Komisi XI dengan
Menkeu dan jajaran di ruang rapat Komisi XI, Gedung Nusantara I, Rabu
(27/05/15). “Saya kira Menkeu sangat optimis,
meskipun perkembangan ekonomi dunia sedang menurun, tapi kepercayaan diri
Indonesia semakin bagus. Menkeu sangat optimis dengan keadaan sekarang.
Mudah-mudahan tercapai. Kita dukung sepenuhnya,” yakin Fadel. Namun, tambah Politisi F-Golkar
ini, pihaknya tetap mengingatkan pertumbuhan ekonomi di beberapa wilayah
Indonesia yang belum merata. Termasuk penerimaan negara yang belum maksimal. Ia
mendorong Menkeu untuk dapat mencapai target penerimaan negara, termasuk dari
sektor pajak. “Penerimaan dari sektor memang
belum tercapai. Namun kita sudah mendengar langkah dan terobosan yang dibuat
oleh Dirjen Pajak. Kita menganjurkan ada langkah menggunakan tekonologi lebih
tinggi, agar PPN itu rekonsiliasi, dan pajak-pajak daerah dikendalikan. Kita
berikan dorongan dan dukungan agar semua tercapai,” tambah Politisi asal Dapil
Gorontalo ini. Mantan Menteri Kelautan dan
Perikanan ini juga mengkritisi masalah penyerapan anggaran di kuartal I yang
masih minim. Namun ia yakin, Menkeu dapat memaksimalkan di periode-periode
berikutnya. Sebelumnya, Menkeu Bambang
menyampaikan realisasi APBN Perubahan 2015 sampai dengan Jumat (22/5/2015)
pekan lalu.“Pendapatan negara yang sudah
masuk sebesar Rp 508,6 triliun atau 28,9 persen dari APBN Perubahan 2015. Pendapatan
negara turun dibanding periode sama tahun lalu yang membukukan penerimaan
hingga Rp 542,6 triliun,” jelas Bambang. Salah satu penyebab utamanya
adalah menurunnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) minyak dan gas bumi
(migas), lantaran harga minyak sudah jatuh jauh dibanding tahun 2014.“PNBP migas sampai 22 Mei 2015
mencapai Rp 91,6 triliun atau 34 persen dari target. Sedangkan tahun lalu, pada
periode sama mencapai Rp 119,9 triliun, ini saat harga minyak masih tinggi,”
imbuh Bambang. Berikutnya, penerimaan
perpajakan terkumpul sebesar Rp 416,8 triliun atau 28 persen dari target.
Realisasi penerimaan perpajakan juga lebih rendah dibanding periode sama tahun
lalu yang sebesar Rp 422,2 triliun atau 33,9 persen dari APBNP. Dari sisi
belanja, total belanja hingga 22 Mei 2015 sebesar Rp 552,5 triliun atau 27,8
persen dari APBN Perubahan 2015. Bambang menjelaskan, belanja
yang dikeluarkan terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 310,8 triliun
yang terbagi untuk belanja K/L sebesar Rp 138,3 trilun dan belanja non K/L
sebesar Rp 172,5 triliun. “Belanja K/L ada keterlambatan,
salah satunya karena APBNP baru disepakati pertengahan Februari. DIPA cair baru
pertengahan Maret, dan ada perubahan nomenklatur utamanya Kemendikbud, sehingga
pencairan baru bisa akhir April,” jelas Bambang. Sementara itu, realisasi
transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp 241,7 triliun atau 36,4 persen dari
pagu di APBN Perubahan 2015. Dengan realisasi pendapatan dan belanja tersebut
maka defisit anggaran per 22 Mei 2015 sebesar Rp 43,9 triliun atau 0,38 persen
dari Produk Domestik Bruto (PDB). “Pembiayaan yang didapat
sebesar Rp 143,8 triliun. Jadi, intinya masih ada cash flow yang cukup besar
untuk dibelanjakan lebih lanjut oleh K/L,” kata Bambang. (sf/DPR)

LEAVE A REPLY