Bukber, Sebuah Ritual Kemanusiaan

0
252
Buka bersama (bukber ) di kediaman Bursah Zarnubi.

*Catatan Ramadhan Hari ke-6

Oleh: Moh. Ilyas*

Ramadhan sarat dengan ritual. Ada ritualitas vertikal dan ada pula ritualitas horizontal.

Ritualitas vertikal bersentuhan langsung dengan Sang Khaliq, Allah Jalla Jalaaluhu. Ia bersifat personal dan individual. Ia lepas dari kontrol sosial dan kemanusiaan. Contoh dalam ritualitas ini di antaranya seperti puasa, shalat tarawih, dan kegiatan taqarrub lainnya.

Personalitas puasa ini bisa ditelusuri dari sebuah firman Allah dalam Hadits Qudsi, “Ash-shaumu lii, wa ana ajzii bihii”, Puasa untuk-Ku, dan aku yang akan membalasnya”. Personalitas ibadah ini sejatinya juga memiliki inpact sosial yang kuat.

Menahan diri dari rasa lapar dan dahaga dengan sendirinya akan membangun  Hassaasiat ijtima’iah (social sensitivity), kepekaan sosial yang kuat. Setidaknya kita akan dihantarkan pada rasa senasib dan sepenanggungan dengan kaum mustadh’afin, kaum miskin papa yang sering menderita kelaparan. Dengan begitu, puasa menghidupkan rasa empati terhadap mereka, sehingga kemudian kita diharapkan akan lebih memerhatikan mereka.

Sementara ritualitas horizontal sebaliknya. Selain ada relasi sosial yang kuat, ia juga sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karenanya, ritualitas horizontal juga tepat ketika didudukkan pula sebagai ritualitas kemanusiaan. Di antara contoh ritualitas horizontal seperti berinfaq, memberi santapan buka puasa dan makan sahur, termasuk buka bersama.

Bukber

Buka bersama, atau yang biasa disingkat “Bukber” merupakan kegiatan yang selalu ditunggu-tunggu di bulan Ramadhan, selain THR pastinya… hehe. Ia ditunggu karena di situlah momen kebahagiaan bagi orang yang berpuasa didapat. Bukankah kebahagiaan bagi shaim (orang yang berpuasa) adalah ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Tuhannya?

Namun kebahagiaan bukber bukan itu saja. Buka puasa yang dilakukan secara bersama-sama memberikan efek kebahagiaan lebih besar, karena di sana selain kita mengalami perasaan yang sama (sama-sama lapar), juga terdapat silaturrahim yang kuat, jalinan kemanusiaan. Satu sama lain terjalin. Yang lama tak bersua kembali bersua, yang lama tak bertegur sapa kembali bertegur sapa, dan bahkan yang lama hubungan terputus tersambung kembali.

Tak hanya itu. Bukber juga mengajak kita saling memahami, saling menghargai, setidaknya jika terjadi antrean saat hendak mengambil hidangan buka puasa. Tentu yang sangat banyak manfaatnya adalah jutaan informasi, termasuk juga pesan-pesan kebaikan yang bisa kita peroleh dari kegiatan bukber. Ada banyak sekali hikmahnya.

Ini belum lagi bagi yang menggelar bukber, yang menyiapkan takjil dan hidangan untuk berbuka puasa. Nilai kebahagiaan dan pastinya juga pahala akan berlipat ganda. Subhanallah!

Oleh karena kuatnya jalinan kemanusiaan dan hikmah di dalamnya, bukber menjadi ritualitas kemanusiaan yang layak untuk terus dilestarikan. Tradisi anggota Korps Alumni HMI (KAHMI) yang sudah sekitar delapan tahun saya ikuti di Jakarta, merupakan tradisi yang sangat baik untuk terus dijaga.

Bukan soal mewahnya hidangan yang menjadikan pertemuan itu indah, tetapi pertemuan dan berkumpulnya itu yang membuat hubungan persaudaraan, jalinan silaturrahim kader dan alumni, HMI dan KAHMI, senior-junior semakin indah. Tentu, bukber bukan hanya untuk komunitas ini. Semua bukber, siapapun tuan rumahnya, apapun komunitasnya, memiliki imbas-imbas positif tersebut.***

*Penulis adalah pemerhati sosial dan politik yang juga alumnus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Universitas Indonesia.

LEAVE A REPLY