Bermain Framing dan Priming

0
109

Oleh : DR. Iswandi Syahputra. MSi*

Panglima TNI Jend. TNI. Gatot Nurmantyo diwawancarai anchor senior, jebolan Liputan6 SCTV, Rosiana Silalahi melalui sebuah program Talk Show yang ditayangkan KompasTV. Sebelum tayang, sudah beredar pesan melalui media sosial akan acara tersebut. Ini pasti menarik, sebab:

1) Magnit Panglima TNI sebagai narasumber. Ini penting untuk menemukan ‘potret’ wajah TNI dalam mensikapi situasi aktual. Apakah wajah TNI turut berbunga-bunga atau tetap tegas dan berwibawa?

2) Magnit Rosiana Silalahi sebagai anchor senior. Pencermat dan penikmat media khususnya berita TV era 2000-an, pasti jatuh cinta dengan cara Rosi menyajikan berita dan melakukan wawancara. Tapi saya masih tetap mengidolakan Ira Koesno, rekan Rosi di SCTV yang tidak kalah tajam, aktual dan terpercaya.

3) Magnit Aksi Bela Islam 55. Wawancara dilakukan menjelang #AksiSimpatik55.

Dengan tiga kondisi tersebut, terus terang saya cemas Panglima TNI lolos dari lubang jarum pertanyaan Rosi yang dikenal tajam, aktual dan terpercaya. Saya masih ingat bagaimana Pak Amin Rais menjadi seperti ‘tidak berdaya’ saat diwawancarai Rosi menjelang Pilpres 2004.

Iswandi Syahputra

Tapi saya juga yakin, Panglima TNI pasti bisa menyelesaikan talkshow dengan aman dan terkendali. Dan, memang demikian yang saya saksikan. Rosi memberikan show pada penonton, Panglima menyajikam talk pada khalayak. Tontonan menjadi talkshow yang mencerahkan.

Panglima terlihat rilek, tapi tegas. Berbicara dengan sistematis, terukur dan terstruktur. Cerdas, tangkas dan tuntas. Tidak banyak tokoh bangsa yang memiliki ‘kedigdayaan’ dan ‘kesaktian’ seperti itu. Apalagi saat tampil di hadapan kamera, disiarkan secara luas di depan anchor senior. Informasi sumber saya menyebutkan, diam-diam Panglima menjalankan laku Jenderal Besar Soedirman. Wudhu-nya tidak putus dan ibadah sunatnya istiqomah. Itu yang mungkin menjadi sumber energi batin beliau menjadi sosok yang kokoh.

Tidak beberapa lama setelah itu, video pendek dan meme tentang pertanyaan Rosi soal makar dan jawaban Panglima TNI menjadi viral di media sosial. Umumnya khalayak netizen gegap gempita senang bukan kepalang dengan jawaban Panglima TNI yang tegas dan berwibawa, bukan jawaban yang berbunga-bunga. Hingga luput mencermati hal kecil dari framing dan agenda setting yang dipraktekkan media.

Pokok pertanyaan Rosi yang kemudian menjadi viral lebih kurang begini;
“Bagaimana analisa Panglima terhadap aksi bela Islam ditunggangi kudeta pada Presiden?” Terus terang, saya terhenyak dengan pertanyaan ini. Ada 2 varibel yang seolah “hendak dipaksakan” untuk saling berhubungan.
– Variabel pertama, Islam.
– Variabel kedua, Kudeta.

Permohonan pada Panglima untuk menganalisis seperti cahaya senter yang ingin dinyalakan untuk menunjuk atau mengarah pada medan wacana yang diinginkan, yaitu ada hubungan antara aksi bela Islam dengan kudeta. Teknik wawancara atau mengajukan pertanyaan seperti inilah yang saya sebut sebagai praktek framing.

Pembahasan tentang framing ini bisa menghabiskan 3 SKS. Tapi saya coba sederhanakan dari pandangan yang paling umum bahwa faming adalah membingkai sebuah peristiwa, atau dengan kata lain framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita.

Atas pertanyaan tersebut, Panglima TNI tanpa berbunga-bunga, tegas menjawab, “Saya tersinggung dengan pernyataan seperti itu, karena saya umat Islam juga”. Opening statement Panglima tersebut seakan hendak menarik garis batas imajiner antara framing dan realitas. Harus dibedakan antara bingkai pada sebuah lukisan dan objek lukisan.

Selanjutnya Panglima menjawab pertanyaan sensitif tersebut dengan membuka memori perjuangan umat Islam Indonesia dalam mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Bagi saya, sesi ini merupakan kelemahan pertanyaan framing yang diajukan Rosi. Rosi mungkin lupa atau alpa bahwa suatu framing bukan saja membutuhkan fakta, tapi stimulus memori dan sejarah. Pertanyaan saya misalnya, sejak kapan umat Islam punya sejarah mengkudeta Presiden? Tidak ada!

Framing itu menjadi gagal karena tidak ditopang oleh priming. Priming merupakan proses di mana isu yang diangkat media akan mengingatkan publik akan informasi sebelumnya yang mereka miliki tentang isu itu, sehingga akan memicu dan memacu perhatian yang lebih  luas.

Sebaliknya, dengan membuka memori perjuangan umat Islam dalam mengusir penjajah dan mempertahankan kemedekaan RI, Panglima justru ‘melawan’ framing Rosi dengan priming. Jlebbb…

Saat itu harusnya Rosi berfikir pada anak pertanyaan lain yang dia siapkan atau mengajukan pertanyaan lain dengan topik berbeda. Tapi seingat saya, Rosi sampai mengajukan 3 kali pertanyaan serupa. Ini menegaskan pandangan saya bahwa memang ini pertanyaan  framing ala media. Dan ini hal biasa dalam politik media. Hanya saja publik harus lebih cermat dan cerdas mengunyahnya sebagai informasi yang dapat mempengaruhi pandangan mereka.

Hormat dan bangga saya pada Panglima TNI…🇮🇩

*Penulis adalah pengamat komunikasi dari IAIN Sunan Kalijaga. Menyelesaikan Master Ilmu Komunikasi di UI & Doktor pada program studi Kajian Budaya & Media di Universitas Gadjah Mada. Saat ini menjadi pengajar tetap pada prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Selain itu ia penulis buku & Penggemar travel semi backpacker.

LEAVE A REPLY