Aung San Suu Kyi Tak Hadir dalam Pertemuan Global tentang Rohingya

0
73
Aung San Suu Kyi. Foto : Ist 
OSLO,
TERKINI.CO- Sebuah pertemuan internasional mengenai penderitaan Muslim Rohingya
yang dianiaya di Myanmar menampilkan pembicara-pembicara ternama, tiga di antaranya
peraih Nobel yang menyerukan dunia agar menyadari adanya tragedi tersebut.
Namun
sesama pemenang Nobel dan ikon pro-demokrasi Aung San Suu Kyi tidak akan ada di
antara mereka. Ia tidak diundang.

Saat ia menjadi tahanan rumah selama 15 tahun, Suu Kyi mengundang rasa kagum
dari seluruh dunia karena pidatonya yang berapi-api dan kritikan tajam terhadap
rezim militer yang menguasai Myanmar.

Setelah
ia dibebaskan pada 2010, ketika jenderal-jenderal penguasa mengalihkan
kekuasaan kepada pemerintahan sipil, ia mendapatkan kursi di parlemen.
Suu
Kyi yang berusia 69 tahun itu mengatakan ia seorang politisi dan tidak pernah
berniat menjadi pahlawan hak asasi manusia. Para pengkritik mengatakan ia
berhati-hati memilih isu mana yang ia tentang, sebagian karena ia memiliki
ambisi menjadi presiden.

Di negara mayoritas pemeluk Budha berpenduduk 50 juta orang yang bermusuhan
dengan 1,3 juta Muslim Rohingya, Suu Kyi telah memilih tetap diam, bahkan saat
dunia melihat dengan ngeri ketika lebih dari 3.500 pengungsi Rohingya dan
migran Bangladesh yang kelaparan dan dehidrasi terdampar di Malaysia, Indonesia
dan Thailand bulan ini.

Pertemuan
internasional di Lembaga Nobel di Oslo, Norwegia, Selasa (26/5) akan
menampilkan pernyataan-pernyataan lewat video dari para pemenang Hadiah Nobel
Perdamaian Desmond Tutu, José Ramos-Horta dan Mairead Maguire. Yang lainnya,
seperti filantropis George Soros, yang melarikan diri dari Hungaria yang
dikuasai Nazi, dan mantan perdana menteri Norwegia Kjell Magne Bondevik, juga
akan berbicara.
Mereka
fokus pada cara-cara konkret untuk mengakhiri penyiksaan selama berpuluh tahun
atas orang Rohingya, dan perlunya angkat suara.
“Jika
Anda bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, Anda telah berpihak pada
penindas,” ujar Tutu, yang meraih Nobel pada 1984 atas perlawanannya terhadap
rezim aparteid yang brutal di Afrika Selatan, dalam pernyataan lewat video.
“Jika
seekor gajah menginjak ekor tikus dan Anda mengatakan Anda netral, tikus
tersebut tidak akan menghargai netralitas Anda.”
Transisi
Myanmar dari kediktatoran menjadi demokrasi tidak mulus. Meski ada euforia
mengenai reformasi politik, kebebasan berekspresi mengangkat kebencian terhadap
minoritas Rohingya.

Dipanas-panasi oleh para biksu radikal, preman-preman bersenjatakan golok merambah
jalanan pada 2012, membunuh sampai 280 orang dan memaksa 140.000 lainnya
tinggal dalam kamp-kamp yang padat dan kotor. Mereka hampir tidak mendapatkan
akses pendidikan dan kesehatan yang layak, serta tidak dapat bergerak bebas,
harus membayar sogokan besar jika ingin melewati barikade polisi, bahkan untuk
keadaan darurat.

Pemerintah Myanmar bersikeras mereka adalah migran-migran ilegal dari
Bangladesh dan menolak memberikan kewarganegaraan, menambah keputusasaan yang
memicu eksodus sekitar 100.000 orang Rohingya dalam tiga tahun terakhir. Pihak
berwenang menolak mengidentifikasi mereka sebagai “Rohingya” dan menyebut
mereka “Bengali”. Suu Kyi juga menghindari istilah tersebut dan biasanya
menyebut mereka sebagai “Muslim.”

Laman untuk konferensi tiga hari di Oslo mengatakan putri pahlawan kemerdekaan
Myanmar, mendiang Aung San, itu memiliki sentimen “anti-Rohingya” yang sama
dengan sebagian besar populasi, sesuatu yang telah ia sangkal, namun tidak
secara menggebu-gebu. Aase Sand dari Komite Burma Norwegia, salah satu dari
penyelenggara acara tersebut, mengatakan memang tidak pernah ada rencana untuk
mengundang Suu Kyi atau memintanya memberikan pernyataan lewat video.

Suu Kyi dalam dua tahun terakhir telah secara aktif berkampanye untuk mengubah
konstitusi yang melarangnya mengikuti pemilihan presiden karena ia menikah
dengan orang asing. Pemilu dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini, dan
pemimpin oposisi lulusan Oxford itu sadar ia tidak akan maju dalam kontes
tersebut. Namun partainya, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi akan maju, dan
diperkirakan akan menang besar.

Suu Kyi telah berhati-hati untuk tidak membuat marah militer, yang masih
memiliki kekuatan politik besar, dengan seperempat kursi di parlemen dan hak
veto atas perubahan-perubahan konstitusional. Ia juga sadar bahwa dirinya, dan
partainya, berisiko dikecam publik jika berbicara membela Rohingya.

Suu Kyi, yang termasuk elit Budha Myanmar, kesal jika media asing atau
aktivis-aktivis hak asasi manusia bertanya mengapa ia sejauh ini tidak mengecam
kefanatikan agama di Myanmar, apakah itu terhadap Rohingya atau umat Kristen
dari minoritas-minoritas Chin dan Kachin, yang juga menghadapi ancaman,
intimidasi dan diskriminasi sejak lama.

Ia tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari kantor berita The Associated
Press, namun menekankan kembali posisinya dalam wawancara dengan The Globe and
Mail dari Kanada bulan lalu bahwa masalah-masalah di negara bagian Rakhine,
tempat hampir semua orang Rohingya tinggal, didasari oleh ketakutan dan persepsi
sebagai minoritas.

Masyarakat
Rohingya merasa terancam oleh umat Budha di Rakhine, sementara umat Budha takut
Muslim di seluruh dunia akan mendukung Rohingya.
“Mereka
yang mengkritik saya karena tidak mengutuk satu pihak atau yang lainnya, mereka
tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya mereka harapkan dari pengecaman
seperti itu,” ujarnya pada surat kabar tersebut.
“Jika
hanya mengambil sikap moral supaya terdengar bagus, kedengarannya kurang
bertanggung jawab.” (VOA)

LEAVE A REPLY