Anak Muda, Masa Depan Politik Indonesia

0
62
Generasi muda. Foto : Radar Jogja.
WAJO, EDITOR.CO.ID- Setidaknya 20 tahun ke depan, kaum akademisi dan
intelektual akan mendominasi sumber daya kepemimpinan bangsa. 20 tahun
ke depan, para pemimpin bangsa ini akan didominasi oleh kaum akademisi.
Karena elit politik yang sekarang menjabat, tentu akan segera pensiun
dan digantikan oleh generasi berikutnya.
Anggota DPRD Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Andi
Ratulangi memprediksi, Partai Amanat Nasional (PAN) berpotensi menjadi
produsen kader-kader muda berkualitas dalam kancah perpolitikan
Indonesia. Sudah terbukti, kebanyakan yang berhasil menduduki posisi
penting pemerintahan daerah maupun pusat saat ini adalah anak-anak
muda. 
“Ya, tentu saja selain karena latar belakang sejarahnya,
PAN lahir dari kaum akademisi dan intelektual aktivis muda,” ujar
anggota legislatif termuda di Kabupaten Wajo itu kepada tim
#KaderBackpacker #SabangMerauke Sekolah Politik Kerakyatan (SPK) PAN
yang menemuinya, Selasa (14/06/2016) lalu.
Bukan hal yang kebetulan jika Andi Ratulangi, dalam usianya
yang baru 24 tahun itu sudah berhasil menduduki kursi wakil rakyat.
Untuk memenangkan pertarungan dalam Pemilu 2014 lalu, ia menerapkan
strategi yang disebutnya sebagai politik realistis.
Strategi politik yang ditawarkannya itu mendasarkan pada
pengalaman dan pengamatannya selama dua tahun sebelum akhirnya berhasil
menduduki kursi DPRD. Menurutnya, strategi Politik yang umumnya
digunakan dalam pertarungan politik saat ini adalah tiga hal, yakni
kualitas, kapasitas dan isi tas.
 
“Yang terakhir inilah yang paling banyak digunakan terutama di desa.
Mengapa? Karena kebanyakan para caleg hanya memenuhi keinginan, bukan
kebutuhan,” ungkap penyandang gelar Sarjana Hukum ini.
Namun, strategi isi tas atau bahasa populernya money
politic ini tidak berlaku di kota. Mayoritas orang kota adalah kalangan
berpendidikan dan sudah cukup mapan.
Mereka tidak butuh lagi dengan uang-uang seperti itu.
Orang-orang di kota cenderung tidak terpengaruh dengan isu-isu ‘kampanye
hitam’ atau yang semacamnya. Mereka cukup cerdas menilai para kandidat.
Dikatakan Andi Ratulangi, meski penting, isi tas bukanlah
yang utama.  Ibarat sebuah mesin, isi tas ini adalah penggeraknya. Uang
adalah modal kedua setelah kemampuan dan analisa politik. 
“Tapi, kita harus bedakan antara money politic dan cost
Politic. Money Politic cenderung kepada politik jalan pintas. Tidak ada
seninya dalam berpolitik. Ini, berbeda dengan biaya atau cost politic,”
jelasnya lagi pada #KaderBackpacker.
Ada tiga hal, yang menurut Andi Ratulangi, penting juga
untuk diterapkan dalam strategi pertarungan politik tingkat pilkada
bahkan nasional. Bila ada satu tokoh dalam masyarakat, langkah
selanjutnya adalah jadikan dia sebagai figur, bila dia sudah menjadi
figur yang berpengaruh dalam masyarakat, langkah terakhirnya adalah cari
momentum.
“Ini merupakan strategi jitu yang terbukti berhasil dipakai
oleh Bapak Presiden kita sekarang, Jokowi,”  ungkap Andi Ratulangi
dalam perbincangan dengan tim #KaderBackpacker yang berlangsung serius
tapi santai, sore itu. 
Yang tidak kalah penting dalam politik realistis adalah
bergerak berdasarkan analisis data yang ril. Pengalaman Andi Ratulangi
cukup mencengangkan. Betapa tidak, tiga minggu sebelum penghitungan
suara, dia sudah mendeklarasikan kemenangannya.
Hal ini dapat dilakukannya karena ia sudah bisa memprediksi
dengan cukup presisi, jumlah suaranya. Hasil olah data statistiklah
yang membuat dia yakin untuk melakukan itu. 
Ia mengawali langkah dengan membaca data hasil pemilihan
umum tahun 2004, 2009, dan 2014. Kemudian dianalisa. Setelah itu, Andi
Ratulangi bergerilya mencari simpul tokoh di masing-masing daerah
pemilihannya. Ia juga mempelajari data tiap-tiap Tempat pemungutan suara
(TPS). Setelah itu dia klasifikasikan suaranya yang benar-benar
konkrit.
“Bersama tim, saya blusukan mengolah data-data itu, tuturnya.
Yang menarik, Andi Ratulangi memasang sendiri poster,
banner, dan baliho hingga ke desa-desa. Saat itu ia sempat juga menjadi
korban kampanye hitam oleh saingan politik yang masih kerabatnya
sendiri, namun itu dibalasnya dengan cantik. Ia  mendorong kompetitor di
kantong-kantong suara pesaingnya. Ini terbukti efektif, untuk menaikkan
elektabilitasnya.

“Saya akan memenuhi kebutuhan masyarakat, bukan keinginan
masyarakat. Yang penting sentuh hati orang. Dan gunakanlah kejujuran,
maka kamu akan bisa menggapai apa yang kamu harapkan,” kata Andi
Ratulangi memungkasi diskusinya dengan tim #KaderBackpacker SPK
PAN.(Jamal/Khairul Fahmi)

LEAVE A REPLY