99,2 % kebutuhan kapas nasional diimpor dari negara lain

0
154

YOGYAKARTA, TERKINI.COM– Siapa sangka Indonesia adalah salah satu importir kapas terbesar di dunia. Sekitar 700 ribu ton kapas/tahun (99,2%) diimpor dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan nasional, khususnya untuk bahan baku kain.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI KLHK), Dr. Henri Bastaman pada Press Tour BLI KLHK di Yogyakarta (20/04/2017).

Henri menjelaskan, saat ini terdapat kurang lebih 460 peneliti BLI KLHK di seluruh Indonesia, yang aktif dalam menghasilkan inovasi baru bidang LHK. “Berbagai inovasi telah dihasilkan, mulai dari penelitian ulat sutera unggul, pengembangan minyak kayu putih, energi dari bahan bakar nabati, hingga Forensik DNA guna mengatasi kejahatan lingkungan dan kehutanan”, ujar Henri.

Salah satu inovasi BLI KLHK adalah pengembangan jenis hibrid ulat sutera produktivitas tinggi, Pusprohut Single Cross (PS 01) dan jenis murbei unggul (SULI 01), yang dimulai sejak tahun 2013. Tantangan di Indonesia saat ini adalah masih rendahnya produksi kokon.

Produksi kokon di Indonesia rata-rata 25,03 kg/boks (satu boks berisi 25 ribu telur), masih tertinggal jauh dibandingkan Tiongkok yang produksi kokon mencapai 39,97 kg/boks.

Dengan adanya jenis hibrid ulat sutera dan murbei unggul sebagai pakannya, diharapkan dapat menghasilkan benang berkualitas untuk mengatasi kebutuhan bahan baku kain di Indonesia, serta mengurangi impor kapas.

Selama ini kualitas kokon yang dihasilkan petani belum memenuhi kriteria kokon yang diinginkan oleh pengrajin, sehingga masih dilakukan impor benang sebagai bahan baku kain. Jenis ulat sutera Jenis-jenis tersebut sudah diaplikasikan di Jawa Barat, dan sentra-sentra pengembangan sutera binaan BLI. Peluang ke depannya, jenis hibrid ulat sutera PS 01 perlu segera dikomersialkan.

Inovasi terkini lainnya, yaitu metode Forensik Deoxyribose Nucleic Acid (DNA) untuk mengidentifikasi jenis dan asal-usul kayu dan hewan dilindungi. Sejak tahun 2009, telah dilakukan penelitian DNA log-tracking untuk kayu jenis Merbau (Intsia bijuga) dan Meranti (Shorea sp.), serta untuk jenis satwa banteng sejak tahun 2012. Penelitian terkait DNA barcoding untuk lebih dari 100 jenis pohon juga masih berlangsung sampai saat ini.

Dengan teknologi tersebut, permintaan informasi genetik tentang asal-usul kayu oleh negara pengimpor kayu Indonesia akan dapat dipenuhi. “Data genetik ini dapat digunakan untuk menguji keabsahan jenis kayu yang diperdagangkan, dan sebagai pelengkap dokumen Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK)”, tutur Henri.

Dalam bidang bioenergi, telah dilakukan pengembangan tanaman Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) melalui uji coba penanaman, pembangunan sumber benih unggul, pengolahan minyak dan pemanfaatan limbah.

Produktivitas biji dari tanaman Nyamplung sangat tinggi, antara 40-150 kg/pohon/tahun, atau sekitar 20 ton/hektar/tahun. Rendemen minyak Nyamplung mempunyai variasi yang tinggi yaitu antara 37 – 58 persen. Satu liter minyak Nyamplung dapat dihasilkan dari 2 – 2,5 kg biji.

Selain itu, saat ini BLI KLHK telah menghasilkan dua varietas pohon minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi), yaitu benih unggul KPP-01 dan benih klon unggul KPP Klon-01. Salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan industri minyak kayu putih adalah rendahnya rendemen minyak yang dihasilkan dari tanaman kayu putih yang ada.

Rata-rata 1 ton daun hanya menghasilkan 80 kg minyak atau rendemen sebesar 0,08 persen. Dengan adanya varietas tersebut, diharapkan dapat berkontribusi untuk peningkatan produksi minyak kayu putih, dan mengurangi impor bahan bakunya dari Tiongkok, yaitu minyak eukaliptus.

Adapun informasi lebih lengkap terkait hasil penelitian BLI KLHK dapat dilihat pada situs www.forda-mof.org (TC)

 

LEAVE A REPLY