Memperingati 71 Tahun Pendakian Gunung Everest, Jejak Pendaki Indonesia

Lingkungan News Terkini Uncategorized

Gunung Everest, yang membentang di perbatasan RRC/Tibet dan Nepal, adalah puncak tertinggi di dunia dengan ketinggian 8.848 meter. Setiap tahun, para pendaki dari seluruh dunia datang untuk menaklukkan puncak ini, menantang diri mereka dalam kondisi ekstrem.

Dalam memperingati 71 tahun pencapaian puncak Everest, kita juga mengenang jejak pendaki Indonesia yang telah mengukir sejarah di gunung ini selama 28 tahun terakhir.

Clara Sumarwati: Pendaki Perempuan Pertama Indonesia di Puncak Everest

Pada tanggal 26 Mei 1996, Clara Sumarwati, seorang perempuan Indonesia berusia 29 tahun, berhasil mencapai puncak Everest pada pukul 11 lebih beberapa menit. Dia tercatat sebagai pendaki ke-837 oleh Elizabeth Hawley, seorang sejarawan pendakian terkenal.

Pencapaian Clara diakui dalam tiga sertifikat dari China Mountaineering Association, Tibet Mountaineering Association (meskipun disobek, Clara masih memiliki fotokopinya), dan Nepal Mountaineering Association. Keberhasilan Clara menjadi inspirasi bagi banyak pendaki perempuan Indonesia.

Ekspedisi Merah Putih: Asmujiono dan Misirin

Setahun kemudian, pada 26 April 1997, Asmujiono, seorang pendaki berusia 25 tahun, mencapai puncak Everest sebagai pendaki ke-848.

Dalam ekspedisi yang sama, rekannya Misirin berada hanya 70 meter di belakangnya tetapi pingsan sebelum mencapai puncak. Ekspedisi Merah Putih ini menunjukkan semangat dan daya juang para pendaki Indonesia di medan yang menantang.

Generasi Baru Pendaki Indonesia di Everest

Pada tahun-tahun berikutnya, semakin banyak pendaki Indonesia yang berhasil mencapai puncak Everest, menunjukkan peningkatan dalam teknik dan persiapan pendakian.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Sofyan Arief Fesa (29 tahun) pada 25 Mei 2011 sebagai pendaki ke-5353.
  • Xaverius Frans (24 tahun) sebagai pendaki ke-5354.
  • Jonatan Ginting (22 tahun) sebagai pendaki ke-5355.
  • Broery A. Sihombing (22 tahun) pada 20 Mei 2011 sebagai pendaki ke-5393.
  • Nurhuda (24 tahun) pada 19 Mei 2012 sebagai pendaki ke-5813.
  • Iwan Irawan (39 tahun) sebagai pendaki ke-5814.
  • Fajri AlLuthfi (28 tahun) pada 23 Mei 2013 sebagai pendaki ke-6825.
  • Martim Rimvawan (28 tahun) sebagai pendaki ke-6830.
  • Dimitri Fransisca (24 tahun) pada 17 Mei 2018 sebagai pendaki ke-8630.
  • Dewi Lestari Mathilda (24 tahun) sebagai pendaki ke-8631.

Rekor dan Fenomena Terbaru

Beberapa tahun terakhir, pendaki Indonesia lainnya juga terus berusaha mencapai puncak Everest. Salah satu pendaki wanita, Putri Handayani, sedang berusaha membiayai ekspedisi Grand Slam-nya (mencapai tujuh puncak gunung tertinggi di dunia serta Kutub Utara dan Kutub Selatan) secara mandiri.

Di sisi lain, dunia pendakian juga mencatat rekor baru. Minggu lalu, sherpa Kami Rita mencapai puncak Everest untuk yang ke-30 kalinya.

Selain itu, sherpani Purnima Shrestha mencapai puncak Everest sebanyak tiga kali dalam 13 hari, meskipun rekornya ini hanya bertahan beberapa hari sebelum dilampaui oleh seorang sherpa lain yang mencapai puncak tiga kali dalam delapan hari.

Rekor jumlah pendaki terbanyak dalam 24 jam terjadi pada 23 Mei 2019, dengan 354 orang mencapai puncak Everest.  Salah satu pendaki hebat dunia, Sean Gee, mencatat waktu luar biasa dengan mencapai puncak Everest dalam 28 jam 57 menit untuk jarak 11,8 mil pada 23 Mei 2019.

Pencapaian pendaki Indonesia di Gunung Everest adalah bukti nyata semangat dan keberanian mereka. Dari Clara Sumarwati hingga generasi baru pendaki, mereka menunjukkan bahwa dengan tekad dan persiapan yang matang, puncak tertinggi dunia bukanlah mimpi yang mustahil.

Setiap langkah mereka di Everest adalah inspirasi bagi kita semua untuk terus bermimpi dan berjuang meraih yang terbaik (Don Hasman/Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *