14 telur Komodo menetas di TSI Cisarua

0
228
Telur Komodo menetas di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor. Foto : @SitiNurbayaLHK

JAKARTA, TERKINI.COM-  Kabar menggembirakan di dunia konservasi, dilaporkan telah menetas 14 telur dari 26 telur Komodo di Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua, Bogor. Pada tanggal 2 Maret 2017 menetas 11 ekor anakan Komodo, berikutnya pada 5 Maret menetas 2 ekor, dan pada 6 Maret menetas 1 ekor lagi.

Proses penetasan telur Komodo dari indukan Rangga (jantan) dan Rinca (betina) ini masih berlangsung dan dinantikan.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati yang mewakili Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Bambang Dahono Adji, mengungkapkan kegembiraannya atas penetasan telur Komodo ini.

Bambang Dahono menyatakan, menetasnya Komodo di Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia ini merupakan keberhasilan upaya pelestarian satwa Komodo diluar habitat aslinyayaitu Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Pemerintah telah menetapkan strategi pengelolaan satwa dilindungi melalui upaya konservasi in-situ dan konservasi ex-situ”.

Selain keberhasilan pengembangbiakan satwa Komodo di Taman Safari Indonesia, Komodo juga berhasil dikembangbiakan di Kebun Binatang Surabaya (72 individu), Ragunan (6 individu) dan Gembira Loka – Yogyakarta (4 individu).

drh. Bongot yang merawat satwa Komodo di TSI Cisarua yang juga sebagai studbook keeper Komodo, menceritakan upaya breedingKomodo ini telah dilakukan sejak 1,5 tahun lalu, mulai dari menyiapkan satwa jantan dan betina sampai menetasnya 14 telur Komodo tersebut. “Rangga dan Rinca mulai melakukan perkawinan tanggal 21 -22 Juli 2016, pertengahan Agustus 2016 Komodo mulai bertelur dan pada tanggal 17 Agustus 2016 dilakukan pengambilan telur, penimbangan dan penyimpanan di inkubator, pada bulan ketujuh tepatnya 2 Maret 2017 telur-telur tersebut mulai menetas dan sampai sekarang masih berlangsung”, kisahnya saat menggelar konferensi pers di Kementerian LHK, Selasa (7/3/2017) di Jakarta.

Direktur Taman Safari Indonesia sekaligus Sekretaris Jenderal Persatuan Kebun Binatang se-Indonesia Tony Sumampau mendukung sepenuhnya upaya pemerintah dalam meningkatkan populasi satwa melalui upaya konservasi ex-situ.

Tony menyatakan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengamanatkan kepada Lembaga konservasi yang dititipkan satwa, untuk dapat meningkatkan jumlahnya serta dapat untuk restocking selain dimanfaatkan untuk hiburan, untuk itu TSI selalu mencoba mengembangbiakkan koleksi satwa yang ada.

Komodo (Varanus Komodoensis) termasuk 25 species terancam punah yang akan ditingkatkan populasinya sebesar 10% selama 5 tahun 2015 – 2019. Komodo merupakan satwa langka yang dilindungi undang-undang sebagaimana tercantum dalam Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta masuk kedalam kategori Appendix I CITES dan Vulnerable pada The IUCN Red List of Threatned Species.

“Jika Lembaga Konservasi kita bangun sebelum tahun 1990, mungkin Harimau Bali dan Harimau Jawa bisa diselamatkan dari kepunahan”, ungkap Bambang Dahono menutup uraiannya. (TC)

LEAVE A REPLY